Mengapa Gempa di Maroko Begitu Mematikan?

Gempa bumi yang melanda sebagian besar wilayah Maroko telah mengakibatkan korban cedera dan tewas di beberapa provinsi, termasuk Marrakesh, Taroudant, dan Chichaoua.

12 Sep 2023 - 09:51
Mengapa Gempa di Maroko Begitu Mematikan?
Petugas penyelamat melanjutkan operasi penyelamatan di daerah pegunungan Tizi N'Test, di provinsi Taroudant, salah satu daerah paling parah di Maroko yang dilanda gempa, Senin 11 September 2023.

Maroko, (afederasi.com) - Gempa bumi yang melanda sebagian besar wilayah Maroko telah mengakibatkan korban cedera dan tewas di beberapa provinsi, termasuk Marrakesh, Taroudant, dan Chichaoua. Episenter gempa ini berada di Pegunungan Atlas, sekitar 70 kilometer selatan Marrakesh di provinsi Al Haouz.

Seismolog atau ahli gempa bumi Richard Walker dari University of Oxford menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat gempa di Maroko pada Jumat lalu begitu mematikan.

"Gempa bumi ini terjadi di wilayah yang memiliki jumlah penduduk yang relatif besar dan jenis bangunan yang rentan terhadap guncangan gempa. Konstruksi bangunan di sana cenderung khas pedesaan yang menggunakan bata tanpa perkuatan," jelasnya.

"Satu faktor penting lainnya adalah gempa terjadi pada malam hari, sekitar jam 11 malam waktu setempat, ketika orang-orang berada di rumah dan sudah tidur. Sehingga, banyak orang terperangkap dalam reruntuhan."

Badan Survei Geologi Amerika Serikat melaporkan bahwa dalam radius 500 kilometer dari pusat gempa pada Jumat itu, belum pernah terjadi gempa bumi dengan kekuatan lebih dari 6,0 skala Richter, setidaknya dalam satu abad terakhir.

Lebih dari 60 tahun yang lalu, bagian pantai barat Maroko pernah dilanda gempa berkekuatan 5,8 skala Richter yang menewaskan lebih dari 12.000 orang dan meruntuhkan kota Agadir di barat daya Marrakesh. Peristiwa tersebut mendorong adanya perubahan peraturan tentang konstruksi bangunan di Maroko. Namun, masih ada banyak bangunan yang rentan terhadap gempa, terutama di pedesaan.

Maroko bagian utara lebih sering mengalami gempa bumi, termasuk gempa berkekuatan 6,4 skala Richter pada tahun 2004 dan 6,3 skala Richter pada tahun 2016.

Tahun ini, gempa berkekuatan 7,8 skala Richter mengguncang Suriah dan Turki, menewaskan lebih dari 21.600 orang.

"Jika dibandingkan dengan Turki, retakan akibat gempa di Turki mencapai 350 kilometer. Sehingga, kerusakan tersebar di beberapa wilayah," kata Remy Bossu, Kepala Pusat Seismologi Eropa-Mediterania (EMSC).

"Skala bencana di Turki jauh lebih besar. Namun, gempa yang terjadi di Maroko tetap merupakan gempa bumi yang kuat," tambahnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 300.000 orang terkena dampak gempa tersebut. Tentara Maroko dan tim SAR sedang berjuang untuk mencapai kota-kota pegunungan terpencil yang hancur akibat gempa bumi tersebut.

Gempa di Maroko disebabkan oleh tabrakan lempeng tektonik Afrika dan Eurasia pada kedalaman yang relatif dangkal, sehingga membuatnya semakin berbahaya. Gempa susulan juga telah terjadi di wilayah tersebut. Seismolog Richard Walker menyatakan bahwa ini adalah "masa yang sangat kritis."

"Masyarakat berusaha mencari mereka yang terkena dampak gempa, berusaha menemukan korban yang selamat. Semakin cepat hal ini dilakukan, semakin besar peluang kita untuk menemukan korban yang selamat," ujarnya.

"Namun dampak gempa masih berlanjut. Banyak orang yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan orang terdekat, dan terkena dampak buruk dari gempa ini. Hal ini akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, bahkan setelah bencana ini terjadi," lanjut Walker. (mg-1/mhd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow