Festival Ojung Situbondo: Dari Adu Cambuk Jadi Simbol Doa, Persatuan, dan Harapan untuk Alam

29 Sep 2025 - 19:02
Festival Ojung Situbondo: Dari Adu Cambuk Jadi Simbol Doa, Persatuan, dan Harapan untuk Alam
Dua pria peserta ojung saling adu di Festival Ojung Situbondo (alifia rahma/afederasi.com)

Situbondo, (afederasi.com) – Suara kendang dan gong bertalu, sorak sorai penonton pecah ketika rotan berderit di udara, mencambuk tubuh dua lelaki yang saling beradu. Inilah Festival Ojung, ritual sakral khas Situbondo yang kembali digelar di Lapangan Kecamatan Kendit, Minggu (28/9/2025).

Namun Ojung, atau Ojhung dalam bahasa Madura, bukan sekadar pertarungan fisik. Sejak abad ke-13, tradisi ini hidup sebagai doa kolektif warga untuk memohon turunnya hujan, mengusir pagebluk, sekaligus mempererat solidaritas masyarakat desa.

Ritual dimulai dengan doa bersama yang dipimpin para tetua adat. Alunan gamelan menghadirkan suasana sakral, seakan membawa ribuan penonton larut ke masa lampau.

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau Mas Rio, hadir langsung membuka festival. Ia menegaskan, Ojung adalah cermin ketangguhan budaya Situbondo yang tetap relevan di era modern.

“Festival Ojung bukan hanya doa memohon hujan, tapi simbol persatuan dan keteguhan hati masyarakat. Di tengah tantangan iklim, tradisi ini mengingatkan kita untuk bersyukur dan berdoa bersama,” ungkap Mas Rio.

Ia juga berjanji akan menjadikan Ojung lebih besar di tahun mendatang dengan pusat acara di Alun-Alun Situbondo, agar dikenal luas oleh masyarakat luar daerah.

Melihat antusiasme yang terus meningkat bahkan tahun ini jumlah pengunjung naik 30 persen Pemkab Situbondo berencana menjadikan Ojung sebagai agenda budaya tahunan berskala nasional. Konsep digital seperti live streaming juga akan disiapkan, sehingga tradisi ini dapat ditonton masyarakat di berbagai penjuru.

“Kami akan lakukan riset mendalam agar generasi muda memahami akar budaya Ojung. Festival ini bukan hanya tontonan, tapi jembatan antara masa lalu dengan masa depan Situbondo yang lebih hijau dan makmur,” tegasnya.

Festival tahun ini menghadirkan puluhan ronde pertandingan, tiap ronde berdurasi lima menit dengan tiga hingga lima kali adu cambukan. Meski menyakitkan, bagi para petani setiap cambukan adalah doa.

Taufik (45), petani Desa Curah Tatal yang sudah puluhan kali ikut Ojung, meyakini pengorbanan itu membawa berkah.

“Setiap cambukan adalah doa kami. Tahun lalu, seminggu setelah Ojung, hujan deras turun. Meski sakit, rasanya bangga karena ini pengorbanan untuk desa,” katanya sembari menunjukkan bekas luka merah di punggung.

Tak hanya petani, festival ini juga menghadirkan kebanggaan bagi warga. Sutini (32), warga Panarukan, datang bersama anak-anaknya dan mengaku terharu.

“Dulu orang tua hanya bercerita kalau Ojung bisa mendatangkan hujan. Sekarang anak-anak saya bisa menyaksikan langsung. Ini pelajaran berharga agar mereka tidak melupakan budaya sendiri,” tuturnya.

Selain menjaga tradisi, Festival Ojung juga menggerakkan ekonomi lokal. Pedagang makanan tradisional dan perajin kerajinan meraup keuntungan dari ribuan pengunjung yang tumpah ruah menyaksikan ritual kuno ini.(vya/dn) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow