Melihat Keseruan Anak-Anak Jombang Serius Latihan Jaranan Dor

28 Dec 2025 - 16:37
Melihat Keseruan Anak-Anak Jombang Serius Latihan Jaranan Dor
Isi masa liburan sekolah anak anak di Desa Banjarsari Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang berlatih jaranan dor, Minggu (28/12/2025). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Musim liburan sekolah dimanfaatkan secara berbeda oleh puluhan anak di Desa Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. 

Alih-alih menghabiskan waktu dengan bermain gadget atau berwisata keluar kota, mereka justru bersemangat mendalami kesenian tradisional Jaranan Dor, warisan budaya khas Jawa Timur yang sarat nilai.

Setiap hari, halaman rumah warga di desa tersebut riuh oleh alunan musik gamelan, tabuhan gendang, bas, dan jidor. Di tengahnya, sejumlah anak dengan serius memainkan alat musik, sementara lainnya lincah mengendalikan kuda kepang dengan penuh energi.

Salah satu pelatihnya adalah Fernando Febriansyah (14), siswa SMP asal Desa Banjarsari yang mahir menabuh gendang. Baginya, latihan jaranan adalah pilihan tepat mengisi liburan.

“Biar mengisi waktu libur sekolah. Kalau berwisata butuh biaya, sementara latihan jaranan di sini gratis, terus senang,” ujar Fernando, Minggu (28/12/2025).

Selain faktor ekonomi, ketertarikan Fernando juga didorong keinginan ikut melestarikan budaya daerah. Selama liburan, ia dan teman-temannya berlatih hampir setiap hari.

Hebatnya, dedikasi mereka tidak sia-sia. Fernando mengaku sudah beberapa kali tampil dalam berbagai pentas, terutama saat perayaan Hari Kemerdekaan di bulan Agustus.

“Dari setiap pementasan, kami dapat bayaran sekitar Rp30.000 per anak. Buat jajan,” katanya sambil tersenyum.

Soal kemampuan, ia dengan percaya diri menyatakan sudah menguasai banyak lagu dalam repertoar jaranan. Menurutnya, dengan ketekunan, mempelajari lagu-lagu tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama.

Kegiatan positif ini tidak lepas dari peran Samiaji Mijek, seorang pegiat seni setempat yang dengan telaten mendampingi anak-anak. Ia sengaja memfokuskan latihan untuk mengisi waktu libur mereka dengan hal bermanfaat.

“Daripada main gadget, kita latih kesenian jaranan dor. Ketertarikan mereka muncul alami karena sejak kecil sudah sering melihat orang dewasa tampil. Dari dalam hati mereka sudah senang,” jelas Cak Mijek, sapaan akrabnya.

Jadwal latihan pun sangat fleksibel, menyesuaikan waktu anak-anak. Jika di hari sekolah hanya seminggu sekali, saat liburan intensitasnya bisa hampir setiap hari.

Cak Mijek menegaskan kegiatan ini memiliki dua misi utama. Pertama, untuk menjaga kelestarian kesenian tradisional Jaranan Dor agar tidak tergerus zaman. Kedua, memberikan kegiatan positif yang bisa mengurangi ketergantungan anak-anak pada gawai.

“Satu, kesenian tetap lestari. Kedua, anak-anak punya kegiatan positif saat liburan,” tegasnya.

Meski kelompok ini masih dalam tahap pembelajaran, mereka kerap mendapat undangan untuk tampil, baik secara mandiri maupun bergabung dengan kelompok jaranan dewasa saat ada hajatan atau festival.

Semangat anak-anak Desa Banjarsari ini menjadi pemandangan yang menyejukkan di tengah gempuran hiburan digital dan arus modernisasi. 

Melalui setiap tabuhan gendang dan hentakan kaki penari kuda kepang, mereka membuktikan bahwa liburan yang bermakna tidak selalu harus pergi jauh atau menghabiskan banyak uang.

Cukup dengan melestarikan dan mencintai budaya sendiri di pekarangan rumah, mereka telah menciptakan kenangan indah sekaligus menjaga identitas bangsa. (san).

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow