Satu Setengah Bulan Terendam Banjir, Warga Bojoasri Lamongan Mulai Diserang Penyakit

28 Dec 2025 - 17:08
Satu Setengah Bulan Terendam Banjir, Warga Bojoasri Lamongan Mulai Diserang Penyakit
Warga Bojoasri Lamongan Keluhkan Penyakit Kutu Air Dampak Banjir Luapan Bengawan Jero.(Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Banjir Luapan Sungai Bengawan Jero yang melanda Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, belum juga menunjukkan tanda-tanda akan surut. Memasuki pekan keenam atau sekitar satu bulan setengah, genangan air masih merendam Puluhan rumah warga, fasilitas pendidikan, akses jalan utama, hingga ratusan hektare lahan tambak.

Kondisi ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi dan pendidikan, tetapi juga mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Sejumlah warga dilaporkan mulai terserang penyakit kulit, terutama kutu air, akibat terlalu sering bersentuhan dengan air banjir yang kotor.

Akses jalan satu-satunya yang menghubungkan Desa Bojoasri dengan desa lain terendam air setinggi lutut orang dewasa atau sekitar 50 sentimeter. Hal ini memaksa warga untuk menerjang banjir demi memenuhi kebutuhan pokok. Tak jarang, kendaraan roda dua milik warga mengalami mati mesin atau mogok di tengah jalan.

Sokeh, salah seorang warga yang ditemui saat mendorong motornya yang mogok, menuturkan sulitnya kondisi saat ini.

"Banjirnya sudah satu bulan setengah, Mas. Ini jalan utama, kalau lewat perahu juga susah karena banyak eceng gondoknya. Jadi terpaksa lewat sini meskipun motor banyak yang mogok. Harapannya ya segera ada solusi dari pemerintah karena ini terjadi tiap tahun," ujarnya. Minggu (28/12/2025).

Selain kendala transportasi, warga juga mengeluhkan minimnya bantuan logistik dan obat-obatan. Banjir yang terjadi setiap tahun ini membuat warga merasa terisolasi, terutama karena distribusi barang konsumsi menjadi terhambat.

Kepala Dusun setempat, Taufik, membenarkan bahwa hingga saat ini warga masih berjuang sendiri menghadapi dampak banjir yang kian parah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Untuk bantuan sampai hari ini belum ada yang masuk, baik sembako maupun lainnya. Distribusi konsumsi juga terhambat karena akses yang susah. Warga juga sudah mulai banyak yang mengeluh gatal-gatal dan kutu air karena setiap hari harus berendam air kotor untuk beraktivitas," jelasnya.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan, tidak hanya memberikan bantuan darurat berupa logistik dan pelayanan kesehatan, tetapi juga melakukan normalisasi sungai atau pembangunan infrastruktur yang lebih memadai agar banjir tahunan ini tidak terus berulang dan semakin parah di masa mendatang. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow