Dari PHK Menjadi Pengusaha: Kisah Perempuan Jombang Bangkit dengan Tenun Tradisional

31 Dec 2025 - 18:04
Dari PHK Menjadi Pengusaha: Kisah Perempuan Jombang Bangkit dengan Tenun Tradisional
Pembuatan tenun di Dusun Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (31/12/2025). (Foto:Istimewa)

Jombang, afederasi.com – Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 tahun 2021 memukul keras banyak keluarga di Kabupaten Jombang.

Namun, di tengah kesulitan, lahir sebuah gerakan produktif yang mengubah nasib puluhan perempuan di Dusun Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Mereka, yang sebagian besar adalah mantan buruh pabrik sarung yang terkena PHK, bangkit bersama dengan mendirikan Sentra Tenun Wastra Sejahtera.

Tempat ini kini menjadi sumber penghidupan baru yang memberdayakan, sekaligus menjaga warisan budaya tenun tradisional Nusantara.

Sentra tenun ini lahir dari situasi darurat. Ketika pabrik tempat mereka bekerja tutup dan memutus hubungan kerja, sekelompok perempuan memilih tidak berlarut dalam kesedihan.

Dengan mengandalkan keterampilan menenun yang sudah dikuasai, mereka memulai usaha mandiri.

Salah satu penggeraknya, Siti Khoirul Uma (41), menjelaskan bahwa sentra dibentuk sebagai bentuk pemberdayaan agar para ibu tetap produktif tanpa meninggalkan peran keluarga.

"Sebagian besar pekerja adalah tetangga sekitar yang sebelumnya bekerja di pabrik sarung. Setelah terkena PHK, kami mencoba bangkit bersama dengan memproduksi tenun secara mandiri," ujarnya, Rabu (31/12/2025).

Membuat selembar kain tenun bukan pekerjaan instan. Di Sentra Tenun Wastra Sejahtera, prosesnya dilakukan secara bertahap dengan ketelitian tinggi:

1.Pemintalan benang

2.Midang (penataan benang)

3.Pembuatan motif

4.Pengikatan

5.Pencelupan warna

6.Penenunan menjadi kain utuh

7.Penyambungan atau penjahitan sesuai produk akhir

Satu potong kain membutuhkan waktu sekitar dua hari pengerjaan, tergantung motif dan kondisi alat. Dalam seminggu, seorang penenun ahli bisa menyelesaikan 2-3 kain.

Sentra yang melibatkan sekitar 15 perajin aktif ini menghasilkan beragam produk bernilai tinggi:

1. Produk Unggulan: Selendang berbahan warna alam (ramah lingkungan dan paling laris)

2.Produk Lain: Sarung goyor, kain lurik, kain bermotif, kain dobi, blangket, dan pengembangan terbaru berupa tirai bambu.

Dengan harga antara Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per potong, omzet bulanan Sentra Tenun Wastra Sejahtera mencapai Rp5 juta – Rp10 juta.

Yang membanggakan, pemasaran telah meluas berkat media sosial dan jaringan pelanggan. Produk tenun asal Penggaron, Jombang ini bahkan telah menembus pasar luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan.

Meski sering menghadapi kendala seperti mesin rusak atau benang mudah putus, semangat para perajin tak pernah surut. Uma berharap kisah mereka bisa menjadi inspirasi.

"Teruslah berkarya dan jangan menyerah. Dari keterbatasan, kita bisa menciptakan sesuatu yang bernilai," pesannya.

Kisah Sentra Tenun Wastra Sejahtera di Jombang ini membuktikan bahwa dampak PHK dan krisis ekonomi bisa diatasi dengan kemandirian, keterampilan lokal, dan semangat kebersamaan.

Mereka bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga melestarikan budaya dan memberdayakan perempuan di daerahnya.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow