Lestarikan Budaya, Kisah Didik Gundul Pertahankan Kesenian Ludruk Bertranformasi ke Ruang Digital

09 May 2026 - 12:47
Lestarikan Budaya, Kisah Didik Gundul  Pertahankan Kesenian Ludruk  Bertranformasi ke Ruang  Digital
Pementasan pergelaran ludruk Budi Wijaya saat di Gresik Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

Jombang, (afederasi.com)– Kabupaten Jombang tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Pluralisme yang menjunjung tinggi toleransi. Lebih dari itu, wilayah ini juga menyimpan kekayaan seni tradisional yang masih berdenyut hingga kini. Salah satunya adalah Ludruk, teater tradisional Jawa yang menjadi cermin kehidupan rakyat.

Di tengah gempuran hiburan modern, sebuah grup ludruk legendaris asal Jombang, Ludruk Budi Wijaya, bertahan dan justru merambah dunia digital. 

Berdiri pada tahun 1985 di Dusun Simowau, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, grup ini adalah bukti nyata bahwa seni tradisional bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Kisah Ludruk Budi Wijaya tidak lepas dari sosok Sahid Pribadi, seorang pedagang asongan yang kerap menjual minuman dan makanan di tengah keramaian pentas ludruk.

Kala itu, Sahid sering membantu grup Ludruk Warna Jaya, juga asal Jombang. Namun, konflik internal akibat masalah pembayaran pemain membuat grup tersebut terpecah.

"Bapak saya dulu adalah panjak (pekerja seni) Ludruk Warna Jaya. Saat ada konflik dan pemain tidak dibayar, Bapak justru kasihan dan berusaha mencari solusi.

Usahanya berhasil, dan lambat laun beliau mendirikan ludruk sendiri yang diberi nama Budhi Jaya," kenang Didik Purwanto (47), generasi kedua penerus pimpinan Ludruk Budi Wijaya, saat ditemui di kediamannya, Jumat (08/05/2026).

Membangun grup ludruk dari nol tentu tidak mudah. Didik menceritakan, sang ayah memulai dengan pentas di berbagai kecamatan, mengandalkan promosi dari mulut ke mulut atau getok tular. Komitmen untuk memberikan gaji yang jelas kepada para pemain menjadi kunci kepercayaan.

Nama Ludruk Budhi Jaya mulai melambung pada tahun 1990-an, bahkan kemudian berganti nama menjadi Ludruk Budi Wijaya. Puncak kejayaan mereka terjadi sekitar tahun 2005.

"Setahun itu, kami bisa mendapat ratusan job. Tidak hanya di Jombang, tapi juga Mojokerto, Pasuruan, Gresik, Probolinggo, hingga Lamongan," ungkap Didik dengan penuh semangat.

Kesadaran bahwa zaman terus berubah mendorong Didik, yang kini memimpin Ludruk Budi Wijaya, untuk berinovasi. Ia tidak ingin tradisi yang dibangun sang ayah hanya menjadi sejarah.

"Saya mulai membawa ludruk masuk ke ruang digital, menjangkau penonton yang lebih luas, khususnya generasi muda," paparnya.

Kini, Ludruk Budi Wijaya aktif mempromosikan pertunjukan melalui media sosial. Namun, Didik memastikan bahwa identitas asli ludruk tetap terjaga.

Isu-isu aktual dan kritik sosial yang menjadi ciri khas ludruk tetap disampaikan, namun dikemas dengan bahasa yang lebih akrab di telinga generasi masa kini.

"Mempertahankan tradisi butuh cara-cara baru agar tidak ditinggalkan. Dengan adaptasi, ludruk akan tetap relevan tanpa kehilangan identitas aslinya," pungkas Didik.

Dengan semangat yang diwariskan dari seorang pedagang asongan hingga panggung digital, Ludruk Budi Wijaya menjadi oase di tengah derasnya arus modernisasi, membuktikan bahwa seni tradisional Jawa Timur khususnya Jombang, tetap hidup dan dicintai. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow