Jelang Musim Haji 2026, Perajin Manik-manik Jombang Kebanjiran Order Tasbih hingga 80 Persen
Jombang (afederasi.com) – Menjelang musim haji 2026, para perajin manik-manik di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tengah bergeliat. Geliat itu bukan tanpa sebab, omzet dan order produksi mereka melonjak drastis. Salah satu produk yang paling diburu calon jamaah haji dan pengusaha oleh-oleh adalah tasbih handmade khas Jombang.
Nur Wachid, seorang pengusaha manik-manik lokal, mengaku kewalahan namun bahagia menyambuti lonjakan permintaan. Dalam wawancaranya dengan afederasi.com, ia menyebutkan peningkatan pesanan mencapai angka fantastis.
"Permintaan tasbih naik kisaran 70-80 persen. Kalau di momen ibadah haji, untuk oleh-oleh souvenir haji, biasanya satu orang minimal beli 100 biji," terang Nur Wachid, Selasa (28/4/2026).
Nur Wachid menjelaskan, keunikan utama produk tasbih dari desanya adalah pengerjaannya yang handmade (buatan tangan) bukan pabrikan. Bahan bakunya pun unik, berasal dari limbah kaca yang diolah menjadi produk eksklusif.
Permintaan tidak hanya datang dari wilayah Jombang saja. Nur Wachid mengungkapkan bahwa kiriman order datang dari berbagai provinsi di Indonesia.
"Pesanan tidak hanya dari Jombang, tapi dari Kalimantan, Bali, Jakarta, hampir seluruh Indonesia. Untuk harga tasbih, yang paling murah Rp7.000 dan paling mahal Rp100.000. Itu tergantung dari bahan, motif, serta jenisnya," ungkapnya.
Bahkan, produk tasbih khas Gudo ini telah menembus pasar luar negeri. Meskipun melalui agen atau biro ekspor impor, tasbih buatan Jombang sudah dikenal di mancanegara.
"Pernah kirim ke luar negeri, ke negara Taiwan, Malaysia, dan Thailand," tambah Nur Wachid.
Tantangan di Balik Lonjakan Omzet: Harga Bahan Baku Naik
Di balik kebanjiran order, para perajin justru menghadapi tantangan berat berupa kenaikan harga bahan baku. Hal ini menjadi tekanan tersendiri bagi kelangsungan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jombang.
Nur Wachid merinci kenaikan yang signifikan:
1. Kaca pewarna: sebelumnya Rp200.000 - Rp300.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp700.000 - Rp900.000 per kilogram.
2. Bahan dasar kaca: dari Rp5.000 menjadi Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram.
3. Harga Elpiji: Kenaikan gas elpiji juga turut menambah beban biaya produksi.
Meski demikian, semangat para perajin untuk memenuhi kebutuhan souvenir jamaah haji tetap tinggi. Mereka berharap pemerintah bisa membantu stabilisasi harga bahan baku.
Salah satu pembeli, Tantrina Rahmawati (36), mengaku baru pertama kali menemukan aksesoris unik di Desa Plumbon Gambang. Ia sengaja datang untuk berburu oleh-oleh.
"Saya tadi ke sini beli aksesoris manik-manik buat kalung untuk diberikan kepada sanak famili. Aksesorisnya unik dan bagus. Jarang ada oleh-oleh seperti ini, dan baru tahu tempat ini," pungkas Tantrina dengan antusias.
Dengan melonjaknya permintaan menjelang musim haji, sentra kerajinan manik-manik di Gudo, Jombang, siap menjadi destinasi belanja souvenir religi yang wajib dikunjungi. (san)
What's Your Reaction?

