Sebelas Grup Ludruk Jombang Siap Pentas Bersama, Lakon "Sarip Tambak Oso" Meriahkan Gedung Kesenian
Jombang (afederasi.com) – Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan menggelar pagelaran ludruk bersama bertajuk "Guyup Rukun Ludruk Jombang" pada bulan Mei 2026 mendatang. Kegiatan yang menampilkan 11 grup ludruk ternama yang masih eksis di Kabupaten Jombang ini akan mengambil lakon legendaris "Sarip Tambak Oso" dan dipentaskan di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang pada tanggal 8 Mei 2026.
Pagelaran ludruk bersama ini merupakan bagian dari upaya pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional khas Jombang. Kabupaten Jombang dikenal memiliki posisi istimewa dalam sejarah ludruk di Jawa Timur sebagai daerah asal muasal kesenian Besutan yang dipercaya sebagai cikal bakal ludruk.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Dra.Wor Windari , M.Si, melalui Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Anom Antono, S.Sn., mengatakan rencana penyelenggaraan pagelaran ludruk bersama yang bertajuk "Guyup Rukun Ludruk Jombang". Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu agenda strategis pemkab dalam melestarikan budaya lokal sekaligus menarik minat generasi muda terhadap seni tradisional.
"Kami ingin ludruk tetap hidup dan dinikmati oleh semua kalangan, terutama anak muda. Pagelaran ludruk gabungan ini akan menjadi ajang apresiasi bagi para seniman ludruk yang selama ini tetap bertahan di tengah gempuran hiburan modern," ujar Anom Antono kepada media afederasi.com, Senin (27/04/2026).
Pagelaran yang digelar pada 8 Mei 2026 mendatang akan menampilkan lakon "Sarip Tambak Oso", sebuah cerita klasik yang populer dalam khazanah ludruk Jawa Timur. Lakon ini dipilih karena sarat dengan nilai-nilai perjuangan, percintaan, dan kritik sosial yang khas dalam seni ludruk.
Kesebelas grup ludruk yang tergabung akan tampil secara kolaboratif, memadukan gaya dan ciri khas masing-masing dalam satu panggung. Setiap grup akan menampilkan lakon tersebut dengan kemasan yang segar namun tetap mempertahankan orisinalitas dan nilai-nilai tradisional.
Anom Antono menjelaskan bahwa Kabupaten Jombang memiliki posisi istimewa dalam sejarah ludruk di Jawa Timur. Kesenian Besutan yang berasal dari Jombang dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya ludruk yang kemudian berkembang pesat di Surabaya dan kota-kota lainnya.
Tokoh Besut dalam kesenian tradisional ini digambarkan sebagai sosok "warga negara imajiner" yang setia mengabdi pada rakyat: menghibur, menyindir, sekaligus diam-diam mencerdaskan masyarakat melalui guyonan yang tampak remeh namun seringkali menggigit lebih tajam daripada pidato resmi.
Di Jombang sendiri, kesenian ludruk tetap bertahan meskipun menghadapi tantangan berat dari arus hiburan modern. Salah satu grup yang masih eksis adalah Ludruk Budhi Wijaya dari Kecamatan Ngusikan yang telah berdiri sejak 1985 dan kini dipimpin oleh Didik Purwanto, putra dari maestro ludruk Sahid.
Anom Antono menambahkan bahwa pagelaran ludruk bersama ini tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antar grup ludruk, serta ruang dialog dan edukasi tentang pentingnya pelestarian seni budaya.
"Ini memberikan edukasi bahwa ludruk penuh dengan dinamika. Kami ingin menghadirkan ludruk yang berbeda dari yang biasa dilihat masyarakat Jombang—sebuah perpaduan antara pelestarian originalitas dan pengembangan mengikuti zaman agar anak muda senang," tuturnya.
Dihubungi terpisah, Didik Purwanto, penerus Ludruk Budhi Wijaya,mengatakan siap untuk menyukseskan kegiatan pementasan ludruk gabungan yang akan di laksanakan pada bulan Mei mendatang di gedung kesenian Jombang. Di tengah derasnya arus digital, para pegiat ludruk di Jombang juga terus beradaptasi.saat ini membawa ludruk masuk ke ruang digital untuk menjangkau penonton yang lebih luas, khususnya generasi muda.
"Langkah tersebut dilakukan tanpa meninggalkan akar tradisi. Cerita-cerita yang diangkat tetap mengandung nilai-nilai sosial dan kritik yang menjadi ciri khas ludruk, namun kemasannya disesuaikan dengan isu-isu aktual dan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
Dengan semangat pelestarian dan adaptasi, pagelaran ludruk "Guyup Rukun Ludruk Jombang" yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada 8 Mei 2026 mendatang diharapkan menjadi momentum kebangkitan seni tradisional di Kabupaten Jombang.
Masyarakat Jombang dan sekitarnya dipersilakan menyaksikan pagelaran ini secara langsung di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang. Tiket dan informasi lebih lanjut mengenai jadwal serta teknis pelaksanaan akan diumumkan secara resmi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang dalam waktu dekat.
"Kami mengundang seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk hadir dan mencintai kembali seni budaya leluhur. Ludruk adalah warisan yang harus kita jaga bersama," pungkas Anom Antono. (san)
What's Your Reaction?

