Ajang Nostalgia, Ribuan Warga Padati Festival Lamongan Tempo Doeloe
"Kami sangat mengapresiasi inovasi dan totalitas dari seluruh peserta yang ikut menyemarakkan festival ini. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Lamongan berencana mewajibkan tiap kecamatan untuk menonjolkan ikon budaya unik mereka sendiri, dan hal itu akan menjadi bahan penilaian utama," ujar Mohammad Nalikan saat meninjau lokasi festival.
Lamongan, (afederasi.com) – Ribuan warga di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, seolah diajak menembus lorong waktu dalam gelaran Festival Lamongan Tempo Doeloe. Tak hanya menjadi ajang nostalgia dan pendongkrak ekonomi kreatif, event tahunan ini juga menjelma menjadi ruang edukasi sejarah yang memikat masyarakat.
Gelaran yang dipusatkan di Lapangan Gajah Mada ini disulap menjadi lautan manusia pada Rabu, (24/6/2026) malam. Warga tumpah ruah merayakan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457 dalam balutan atmosfer masa lalu yang begitu kental. Festival tahun ini tampil jauh lebih semarak dengan adanya lonjakan jumlah peserta dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Bukan sekadar tempat nongkrong dan silaturahmi, festival ini sukses memutar roda ekonomi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Berbagai kuliner legendaris yang mulai langka dijajakan di deretan stan, mulai dari getuk, nagasari, cucur, hingga segarnya es dawet ayu yang sukses memicu memori masa kecil para pengunjung.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lamongan, Mohammad Nalikan, memberikan apresiasi tinggi atas totalitas para peserta. Ia mencatat banyak instansi dan kecamatan yang totalitas membawa replika sejarah, mulai dari Stasiun Babat kuno hingga pameran purbakala.
"Kami sangat mengapresiasi inovasi dan totalitas dari seluruh peserta yang ikut menyemarakkan festival ini. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Lamongan berencana mewajibkan tiap kecamatan untuk menonjolkan ikon budaya unik mereka sendiri, dan hal itu akan menjadi bahan penilaian utama," ujar Mohammad Nalikan saat meninjau lokasi festival.
Satu di antara magnet utama yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah stan milik Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Lamongan. Di stan ini, pengunjung dibuat takjub oleh pameran Tosan Aji atau keris pusaka, serta berbagai peninggalan otentik Kerajaan Majapahit, seperti uang gobog hingga gelang bahu prajurit kuno.
Menariknya, di antara koleksi yang dipajang, terdapat bilah keris sepuh yang bernilai historis sangat tinggi, dengan taksiran nilai mencapai ratusan juta rupiah.
Ketua Matra Lamongan, Heruwidi, menegaskan bahwa kehadiran mereka dalam festival ini bukan sekadar untuk pamer koleksi, melainkan sebagai media edukasi ilmiah bagi masyarakat, khususnya generasi z dan milenial.
"Pameran ini kami hadirkan sebagai media edukasi ilmiah agar generasi muda kita tidak lupa pada akar budaya luhur. Mereka harus tahu bahwa Lamongan dan Nusantara memiliki warisan peradaban yang luar biasa bernilai," tegas Heruwidi di sela pameran pusaka.
Lewat romansa Festival Lamongan Tempo Doeloe ini, masyarakat diharapkan tidak hanya pulang membawa perut kenyang dan hati yang terhibur. Lebih dari itu, event ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga dan cinta yang mendalam terhadap identitas serta sejarah lokal asli Kabupaten Lamongan. (yan)
What's Your Reaction?

