Meriah! Tradisi Riyaya Unduh-unduh GKJW Mojowarno Jombang Jadi Simbol Syukur dan Toleransi Lintas Agama

10 May 2026 - 15:38
Meriah! Tradisi Riyaya Unduh-unduh GKJW Mojowarno Jombang Jadi Simbol Syukur dan Toleransi Lintas Agama
Suasana Perayaan Tradisi Riyaya Unduh-unduh yang di adakan di Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno Kabupaten Jombang, Minggu (10/05/2026). (Foto:Santoso/afederasi.com)

Jombang (afederasi.com) – Suasana meriah menyelimuti kawasan GKJW Mojowarno yang terletak di Desa/Kecamatan Mojowarno.Ribuan warga dari berbagai daerah memadati lokasi untuk menyaksikan Tradisi Riyaya Unduh-Unduh, sebuah ritual tahunan yang sarat makna syukur atas hasil panen sekaligus simbol kuat toleransi umat beragama di Kota Santri, Minggu (10/05/2026).

Sejak pagi buta, tepatnya pukul 06.00 WIB, antusiasme warga sudah terlihat. Tujuh bangunan hasil bumi yang dihias berlapis patung, ornamen khas Jawa, hingga aneka hasil pertanian berjajar rapi. Tradisi ini menjadi magnet tidak hanya bagi umat Kristen, tetapi juga masyarakat lintas agama yang ingin menyaksikan kekayaan budaya khas GKJW Mojowarno.

Prosesi puncak diawali dengan Tari Bedayan yang menjadi ciri khas Riyaya Unduh-Unduh. Tarian ini menggambarkan sejarah panjang tradisi sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah. Setelah itu, perwakilan penari menyerahkan padi dan ubo rampe (perlengkapan tradisional) kepada pendeta sebagai tanda dimulainya arak-arakan.

Saat bangunan hasil bumi memasuki halaman gereja, suasana makin semarak dengan tabuhan lesung yang menggema. Bunyi "tuk-tak-tuk" itu menghadirkan nuansa tempo dulu, mengenang masa ketika masyarakat menumbuk padi usai panen.

Guru Injil GKJW Mojowarno, Imam Ghozali, menjelaskan bahwa Riyaya Unduh-Unduh adalah tradisi tahunan yang digelar setiap minggu kedua Mei.

"Ada tujuh bangunan yang diarak dari Blok Mojotengah, Mojowarno, Mojojejer, Mojodukuh, Mojowangi, Mojoroto, dan RSK. Setiap bangunan berisi hasil bumi, ayam, kambing, hingga lukisan sesuai tema masing-masing wilayah. Setelah ibadah selesai, hasil bumi tersebut nanti dilelang,"* jelas Imam Ghozali.

Ia menambahkan, tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya gereja yang telah hidup ratusan tahun.

"Riyaya Unduh-Unduh ini ada di seluruh GKJW di Jawa Timur, tetapi yang memiliki tradisi seperti di Mojowarno hanya satu-satunya. Tabuh lesung memiliki filosofi mendalam. Dulu sebelum era modern, padi dijemur lalu ditumbuk pakai lesung. Itu kami tampilkan agar generasi sekarang mengenal budaya leluhur,"* tuturnya.

Salah satu peserta asal Desa Mojowangi, Citra Wulan (20), mengaku sangat antusias. Menurutnya, Unduh-Unduh selalu menghadirkan suasana ramai dan kebersamaan.

"Seru banget karena pengunjungnya banyak, bukan hanya umat Kristen tetapi juga dari agama lain. Setiap bangunan punya keunikan sendiri, dihias seperti parsel lengkap dengan patung sesuai tema cerita. Harapannya acaranya semakin besar, semakin ramai, dan masyarakat tetap tertib," ujar Citra.

Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdakab Jombang, Drs.Purwanto. MKP, yang hadir mewakili Bupati Jombang Warsubi, menyebut Tradisi Unduh-Unduh bukan sekadar budaya gerejawi, melainkan juga sarat nilai sosial dan toleransi.

"Tradisi ini mengandung nilai gotong royong, kepedulian sosial, kebersamaan, dan semangat berbagi. Ini adalah kearifan lokal yang harus dijaga untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman. Mari bersama secara kolaboratif dan harmonis menjaga kondusifitas dengan memperkuat persatuan dan kesatuan," ujar Purwanto.

Kerukunan masyarakat seperti inilah yang menjadi modal penting bagi Jombang sebagai Kota Santri yang terus menjunjung tinggi toleransi antar-umat beragama. (san)



What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow