Masuk Bulan Suro, Petilasan Dewi Kilisuci di Gunung Pucangan Jombang Ramai Pengunjung

24 Jun 2026 - 13:10
Masuk Bulan Suro, Petilasan Dewi Kilisuci di Gunung Pucangan Jombang Ramai Pengunjung
Peziarah dari berbagi kota yang datang ke petilasan Dewi Kili Suci yang ada di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang. (Foto : Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) – Bulan Suro dalam tradisi Jawa selalu menyimpan nuansa sakral dan mistis. Di Kabupaten Jombang, suasana ini terasa begitu kental, terutama di Petilasan Dewi Kilisuci yang berada di puncak Gunung Pucangan, Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Tempat ini menjadi magnet utama bagi ribuan peziarah, tak hanya dari Jombang, tetapi juga dari berbagai penjuru Nusantara, yang datang untuk mencari berkah dan ketenangan batin di momen-momen tertentu bulan Suro .

Dimana petilasan Dewi Kilisuci menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Kerajaan Kadiri. Dewi Kilisuci, yang memiliki nama asli Sanggramawijaya Dharmaprasada Tunggadewi, adalah putri dari Raja Airlangga. Ia dikenal sebagai pewaris tahta Kerajaan Kahuripan yang memilih meninggalkan kemewahan istana demi menjalani kehidupan pertapaan. Alasan utamanya adalah penolakannya untuk menjadi ratu, dengan prinsip teguh bahwa ia baru akan memimpin jika rakyatnya telah sejahtera .

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, dalam perjalanannya, Dewi Kilisuci bertemu dengan kakek dermo, seorang tokoh pembabat Alas Pucangan. Pertemuan ini membawanya memutuskan untuk tinggal dan menetap di padepokan kakek dermo di Gunung Pucangan hingga akhir hayatnya. Kini, di lokasi tersebut terdapat 13 makam yang diyakini sebagai makam Dewi Kilisuci beserta para dayang dan pengikut setianya.

Kesakralan Gunung Pucangan semakin terasa di bulan Suro. Agus Syahid, juru pelihara situs mengungkapkan bahwa pada bulan ini, ratusan bahkan ribuan peziarah datang dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya berasal dari Jombang, tetapi juga dari Demak, Kediri, Nganjuk, Lamongan, Gresik, bahkan hingga dari luar pulau seperti Kalimantan .

"Untuk peziarah datang dari Jombang dan luar Jombang seperti, Demak, Kediri, Nganjuk, Lamongan, Gresik bahkan dari luar pulau yakni dari Kalimantan. Rata-rata mereka berziarah dan ritual di bulan Suro ini," terang Agus Syahid kepada media afederasi.com, Rabu (24/06/2026) .

Agus menambahkan, aktivitas ziarah di bulan Suro nyaris berlangsung setiap malam, dengan puluhan orang datang untuk berdoa dan melakukan ritual. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam 1 Suro, malam 15 Suro, serta malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi. Tempat ini buka 24 jam, sehingga peziarah bebas datang kapan saja .

Sebelum menuju makam Dewi Kilisuci di puncak, para peziarah umumnya melakukan serangkaian ritual yang telah menjadi tradisi. Mereka terlebih dahulu singgah di Sendang Dermo atau Sendang Drajad, sebuah sumber mata air suci di kaki Gunung Pucangan. Di sini, mereka melakukan mandi suci atau sekadar mengambil air untuk dibawa ke makam. Air suci ini dipercaya memiliki berkah dan digunakan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin .

Setelah itu, peziarah melanjutkan perjalanan menuju puncak. Prosesi ziarah biasanya meliputi:

1. Meminta izin kepada juru kunci untuk menyampaikan niat dan tujuan.

2. Menaburkan bunga 7 rupa dan membakar dupa atau kemenyan sebagai simbol penghormatan dan pembersih suasana.

3. Bertawasul, membaca tahlil, dan yasin untuk mendoakan arwah para leluhur di makam tersebut.

4. Berdoa secara khusus menyampaikan hajat dan harapan, baik itu terkait ekonomi, jodoh, kenaikan pangkat, maupun kesehatan .

Kepercayaan akan kekuatan magis di Gunung Pucangan menjadi salah satu daya tarik utama. Masyarakat meyakini bahwa dengan berziarah dan berdoa di makam para leluhur yang dianggap suci, segala hajat akan lebih cepat terkabul. Juru kunci setempat, Agus syahid mengungkapkan bahwa banyak peziarah datang dengan tujuan mencari keberkahan, kenaikan pangkat, hingga kesembuhan dari penyakit .

Namun, di balik kesakralannya, terdapat pula mitos dan misteri. Konon, tempat ini memiliki aura mistis yang kuat. Siapapun yang datang dengan niat tidak baik, dikatakan akan mengalami kejadian-kejadian aneh, seperti kesurupan atau bertemu dengan makhluk halus. Hal ini justru menambah daya pikat tempat ini bagi para pencari pengalaman spiritual .

Dengan segala keunikan sejarah, ritual, dan mistisnya, Petilasan Dewi Kilisuci di Gunung Pucangan bukan sekadar tempat wisata religi, tetapi juga cerminan kearifan lokal yang terus lestari di tengah modernitas. Bagi Anda yang mencari ketenangan jiwa dan pengalaman spiritual, ziarah ke tempat ini di bulan Suro bisa menjadi pilihan yang tepat. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow