Komunitas Lingkungan Soroti Penambangan Pasir Sungai Brantas, Peringatkan Risiko Banjir dan Kerusakan Ekosistem

13 Sep 2024 - 06:24
Komunitas Lingkungan Soroti Penambangan Pasir Sungai Brantas, Peringatkan Risiko Banjir dan Kerusakan Ekosistem
Gambaran kerusakan sungai brantas, (ist)

Tulungagung, (afederasi.com) - Aktivitas penambangan pasir di Sungai Brantas, Kabupaten Tulungagung, semakin menjadi sorotan komunitas peduli lingkungan Kaoem Telapak Jatim.

Komunitas ini menilai bahwa praktik penambangan yang semakin intensif dan sporadis di beberapa titik berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius, termasuk risiko banjir di musim hujan.

Salah satu anggota Kaoem Telapak Jatim, yang tidak ingin disebut namanya, mengungkapkan kekhawatirannya terkait meningkatnya aktivitas penambangan pasir di wilayah Rejotangan, Ngunut, dan Ngantru.

"Aktivitas penambangan di tiga lokasi ini sangat mengkhawatirkan, terlihat adanya pembiaran sistematis oleh instansi yang seharusnya bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan DAS Brantas," ujar AKW, Jumat (13/9/2024).

Menurut pengamatannya, pembiaran ini telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, dan jika terus dibiarkan, potensi banjir yang mengancam pemukiman warga akan semakin besar saat musim hujan tiba.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai akan menjadi korban utama dari dampak buruk penambangan yang tidak terkendali ini," tegasnya.

Selain ancaman banjir, dampak lain dari penambangan pasir di area tersebut adalah kerusakan ekosistem sungai. Banyak flora dan fauna yang kehilangan habitatnya akibat pengerukan pasir, dan ekosistem Sungai Brantas pun rusak parah.

"Penambangan ini telah menyebabkan sedimentasi dan erosi pada struktur tanah sungai, mengubah alur sungai dan merusak bantaran serta tanggul," tambahnya.

AKW juga memperingatkan bahwa tanpa penahan alami yang cukup kuat, derasnya aliran air akibat sedimentasi dapat memperparah risiko banjir di wilayah pemukiman.

Ia membandingkan kondisi ini dengan yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro, di mana penambangan pasir di Sungai Bengawan Solo telah menyebabkan sedimentasi parah, sehingga sering terjadi banjir besar yang melanda pemukiman warga.

"Belajar dari kejadian di Bojonegoro, masyarakat Tulungagung tidak boleh menganggap remeh masalah ini. Kita harus segera bertindak sebelum kerugian besar tak terhindarkan," pungkasnya.

Komunitas Kaoem Telapak Jatim berharap adanya tindakan tegas dari pemerintah dan instansi terkait untuk menghentikan praktik penambangan yang merusak lingkungan sebelum dampak buruknya semakin meluas. (riz/dn) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow