Sikapi Seruan Prabowo, Unhan Undang Pakar hingga Perusahaan Bahas Krisis Air

Universitas Pertahanan RI (Unhan) merespons seruan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dengan menggelar seminar internasional yang membahas teknologi ketahanan air guna mengatasi krisis air yang dihadapi Indonesia.

22 Sep 2023 - 13:27
Sikapi Seruan Prabowo, Unhan Undang Pakar hingga Perusahaan Bahas Krisis Air
Sikapi Seruan Prabowo, Unhan Undang Pakar hingga Perusahaan Bahas Krisis Air. (Suara.com/Bagaskara)

Bogor, (afederasi.com) - Universitas Pertahanan RI (Unhan) merespons seruan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dengan menggelar seminar internasional yang membahas teknologi ketahanan air guna mengatasi krisis air yang dihadapi Indonesia. Seminar ini bertujuan untuk meneliti teknologi sumber air yang dapat mengatasi permasalahan krisis air yang semakin mengkhawatirkan di tanah air. Kegiatan seminar ini diadakan pada tanggal 22 September 2023 sesuai dengan seruan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kepada Unhan pada 20 September 2022. Rektor Unhan, Letjen TNI Jonni Mahroza, menyatakan bahwa seminar ini juga bertujuan untuk memperluas wawasan dan mencari solusi dalam mencapai ketahanan sumber daya air dengan memanfaatkan teknologi terkini yang sesuai dengan kondisi alam Indonesia guna memperkuat pertahanan negara.

Dalam upaya mengatasi krisis air yang semakin mendesak, Unhan berkolaborasi dengan Indonesia Business Post menggelar seminar internasional tentang teknologi ketahanan air. Acara ini turut mengundang 15 perusahaan dan pakar teknologi ketahanan air, baik dari dalam maupun luar negeri. Pilihan perusahaan-perusahaan ini dipilih berdasarkan harapan Menteri Pertahanan RI dan Rektor Unhan RI bahwa teknologi yang mereka miliki dapat mendukung revolusi manajemen air dan ketahanan air di Indonesia. Namun, disayangkan Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Menhan Prabowo yang dijadwalkan hadir, akhirnya membatalkan partisipasinya dalam seminar ini.

Kondisi ketahanan air di Indonesia kini mengarah ke krisis air yang membahayakan. Kekeringan telah melanda sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara baik Timur maupun Barat, Maluku, dan beberapa kota lainnya, sebagai dampak dari perubahan iklim. Perubahan iklim ini dipicu oleh pencemaran lingkungan, terutama pencemaran udara oleh CO2, NO3, dan HSO2 yang berkontribusi pada efek rumah kaca dan hujan asam. Menurut Letjen TNI Jonni Mahroza, penanganan yang efektif diperlukan untuk memitigasi dampak negatif dari perubahan iklim dan krisis air ini. Salah satu langkah penting adalah meningkatkan ketahanan air di seluruh Indonesia.

Dalam rangka mengantisipasi krisis air yang kemungkinan akan semakin memburuk, Unhan melakukan penandatanganan kerjasama dengan tiga perusahaan asal Perancis dan Swedia. Tindakan ini diambil sebagai upaya konkret untuk memitigasi krisis air yang akan datang. Proyeksi 2020-2045 menunjukkan penurunan ketersediaan air yang merata, terutama di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Oleh karena itu, tindakan mitigasi yang tepat dan perkuatan ketahanan air negara diperlukan untuk mencegah potensi kerugian negara yang lebih besar akibat krisis air. (mg-3/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow