Pacitan Masih Endemis Kusta, Dinkes Catat 16 Kasus Dalam Dua Tahun Terakhir
Pacitan, (afederasi.com) – Penyakit kusta masih menjadi ancaman kesehatan di Kabupaten Pacitan.
Dinas Kesehatan Pacitan mencatat lima kasus kusta ditemukan sepanjang tahun 2025 di sejumlah wilayah desa, meski jumlahnya tidak menunjukkan lonjakan dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pacitan, Nur Farida, mengatakan lima kasus tersebut ditemukan di Desa Tanjung, Kecamatan Punung, Desa Bubakan, Kecamatan Tegalombo, dan Desa Kendal.
Seluruh penderita merupakan kelompok usia dewasa.
“Kusta di Pacitan memang bersifat endemis. Setiap tahun tetap ada temuan meski tidak sampai meningkat drastis,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, kusta memiliki masa inkubasi yang panjang.
Proses dari seseorang terpapar hingga muncul gejala bisa berlangsung bertahun-tahun sehingga kasus yang ditemukan umumnya terjadi pada usia dewasa.
Menurutnya, penularan kusta dapat terjadi melalui interaksi dengan penderita dalam kehidupan sehari-hari.
Kontak fisik seperti berjabat tangan atau berpelukan juga berpotensi menjadi media penularan apabila terjadi secara terus menerus.
“Kalau hanya terpapar sekali atau dua kali dan pola hidup bersihnya baik biasanya tidak langsung muncul gejala. Tapi jika paparan terjadi berulang daya tahan tubuh bisa menurun dan gejala bisa muncul,” jelasnya.
Nur Farida menambahkan, meski Pacitan tergolong wilayah endemis, kondisi kasus kusta masih relatif terkendali.
Seluruh kasus yang ditemukan pada 2024 dan 2025 terdeteksi pada tahap awal sehingga tidak berkembang menjadi kondisi berat atau menyebabkan kecacatan.
“Di tahun 2024 ada 11 kasus dan tahun 2025 ada lima. Semuanya ditemukan dini dan tidak ada yang sampai parah,” katanya.
Namun demikian, Dinkes mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
Selain kusta, sejumlah penyakit endemis lain seperti demam berdarah dan antraks masih berpotensi muncul di Pacitan.
Ia mengimbau masyarakat yang memiliki aktivitas berisiko untuk meningkatkan perlindungan diri dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam keseharian.
“Menjaga kebersihan diri dan lingkungan itu kunci. Untuk masyarakat dengan aktivitas berisiko minimal harus melindungi diri dan menerapkan PHBS secara konsisten,”pungkasnya.(Feri)
What's Your Reaction?



