Hapus Stigma Matematika Menakutkan, Pemkab Gresik Latih 321 Guru SD–SMP

12 Jan 2026 - 21:55
Hapus Stigma Matematika Menakutkan, Pemkab Gresik Latih 321 Guru SD–SMP
Wakil Bupati Gresik dr. Asluchul Alif saat memberikan arahan dalam pelatihan khusus kepada 321 guru SD-SMP di Gresik (Fahrudin/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Pemerintah Kabupaten Gresik memperkuat kemampuan numerasi guru sebagai langkah strategis meningkatkan mutu pendidikan dan menghapus stigma matematika sebagai pelajaran yang menakutkan. 

Melalui pelatihan khusus, guru didorong mengubah pola ajar agar matematika menjadi pelajaran yang logis, kontekstual, dan menyenangkan bagi siswa.

Upaya tersebut ditegaskan Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, saat membuka pelatihan guru bertajuk Pembelajaran Diferensiasi dan Motivasi Siswa ala Jepang di Ruang Mandala Bhakti Praja, Senin (12/1/2026).

“Yang sedang kita pikirkan adalah bagaimana matematika bisa menjadi pelajaran yang menyenangkan. Saya hanya menitipkan satu pesan penting, yakni kejujuran,” ujar Wabup Alif.

Menurutnya, kejujuran dalam proses pembelajaran baik saat mengajar maupun menilai merupakan fondasi utama peningkatan kualitas pendidikan. Tanpa kejujuran, capaian hasil belajar hanya akan menjadi target administratif tanpa dampak nyata.

Pelatihan yang digelar selama tiga hari, 12–14 Januari 2026, ini diikuti 321 guru SD dan SMP se-Kabupaten Gresik. Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Prof. Biyanto, sebagai bentuk penguatan sinergi pusat dan daerah dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Hariyanto, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat numerasi guru sekaligus mengenalkan pendekatan pembelajaran matematika ala Jepang yang menekankan pemahaman konsep, penalaran, dan keterlibatan aktif siswa.

“Guru kami dorong keluar dari pola pembelajaran yang kaku. Pendekatan yang lebih kontekstual dan ramah siswa diharapkan mampu meningkatkan minat dan hasil belajar,” jelasnya.

Hariyanto menambahkan, pelatihan ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) April 2026.

Ia menyinggung hasil TKA SMA tahun 2025 secara nasional yang dinilai masih memprihatinkan, dengan nilai rata-rata Matematika hanya 37,23, Bahasa Indonesia 57,39, dan Bahasa Inggris 26,71.

“Ini menjadi peringatan serius. Di Gresik kami menargetkan tidak ada lagi nilai TKA di bawah 5 untuk SD dan SMP. Target minimal Matematika 6,00 dan Bahasa Indonesia 7,00,” tegasnya.

Sebagai langkah pendukung, Pemkab Gresik juga menjalankan penguatan Bahasa Inggris melalui kerja sama dengan Kampung Inggris Pare. Program percontohan diterapkan di SDN 4 Petrokimia Gresik dan SMP Plus Jauharul Maknuun Sidayu, dengan membangun ekosistem Bahasa Inggris yang melibatkan seluruh unsur sekolah.

Sementara itu, pendekatan matematika ala Jepang dipilih untuk membiasakan siswa bernalar, memahami konsep, dan menikmati proses belajar. Pemkab Gresik menargetkan peningkatan nilai TKA secara konsisten dan mampu menembus 10 besar tingkat Provinsi Jawa Timur.

Pelatihan ini terselenggara melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Gresik dengan dukungan program CSR PT Petrokimia Gresik, sebagai bagian dari komitmen bersama memperkuat kualitas pendidikan daerah.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow