Nilai Ekspor Lamongan Tembus Rp22 Triliun Tumbuh 6,12 Persen, Kinerja Impor Terkoreksi

09 Jan 2026 - 19:10
Nilai Ekspor Lamongan Tembus Rp22 Triliun Tumbuh 6,12 Persen, Kinerja Impor Terkoreksi
Bupati Yes Bersama Kepala Diskoperindag Lamongan Anang Taufik. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Kinerja perdagangan internasional Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mencatatkan dinamika yang kontras sepanjang tahun 2025. Di saat nilai ekspor mengalami lonjakan signifikan, aktivitas impor justru tercatat mengalami penurunan yang cukup dalam.

Nilai ekspor Lamongan menembus angka Rp22,05 triliun, melampaui target tahunan sebesar Rp21,8 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,12% dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran Rp20,78 triliun. Sebaliknya, kinerja impor justru menunjukkan tren kontraksi yang signifikan.

Kepala Diskoperindag Lamongan, Anang Taufik, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ekspor bukan dipicu oleh penambahan jumlah eksportir, melainkan volume permintaan pasar dunia yang kian masif. Sektor industri logam menjadi primadona, terutama melalui peran PT Han yang memproduksi baja lembaran dan aluminium.

Menariknya, penyelamat pertumbuhan ekspor justru datang dari kategori "Negara Lainnya" yang melonjak fantastis sebesar 246,88%. Sektor ini menyumbang nilai sebesar USD 5,26 miliar atau setara dengan 95,34% dari total pangsa pasar, mengindikasikan bahwa produk Lamongan kini semakin diminati di pasar non-tradisional melampaui mitra lama seperti Jepang dan China.

Berdasarkan data terbaru dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, total nilai impor tahun 2025 tercatat sebesar USD 19.715.277 (setara Rp330,49 triliun). Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 26,47% jika dibandingkan dengan total impor tahun 2024 yang mencapai USD 27.671.774.

Secara spesifik, terjadi pergeseran besar pada struktur barang yang didatangkan ke Lamongan. Golongan Besi dan Baja (HS 72) kini mendominasi dengan kontribusi mencapai 74,49% dari total impor. Nilainya melonjak tajam hingga 304,73%, dari yang sebelumnya hanya USD 3,74 juta di tahun 2024 menjadi USD 14,68 juta di tahun 2025.

Sebaliknya, penurunan terdalam terjadi pada golongan Mesin dan Peralatan Mekanis (HS 84) yang anjlok sebesar 92,34%. Jika tahun lalu nilainya mencapai USD 18,68 juta, kini hanya tersisa sekitar USD 1,38 juta.

Tren penurunan serupa juga terlihat pada golongan Pulp atau Kertas Bekas (HS 47) yang merosot 52,16% menjadi USD 582 ribu, serta Instrumen Optik dan Peralatan Presisi (HS 90) yang turun drastis 99,42%. Di sisi lain, golongan Karet dan Barang dari Karet (HS 40) tetap stabil dengan kenaikan tipis 10,76% di angka USD 1,12 juta.

Meski terdapat dinamika pada angka impor, Anang tetap optimis terhadap keberlanjutan ekonomi daerah. Lonjakan pada impor besi dan baja dipandang sebagai sinyal aktivitas industri manufaktur yang tetap aktif untuk memenuhi permintaan pasar.

"Peluang melampaui target itu sangat terbuka. Namun, kita juga harus tetap memantau regulasi global yang bisa berubah sewaktu-waktu. Dampak pembatasan ekspor global sempat terasa, tapi sekarang sudah membaik. Kami optimistis ekspor Lamongan ke depan akan terus tumbuh berkelanjutan," pungkasnya. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow