Natal di Betlehem, Tepi Barat: Keprihatinan di Tengah Kobar Perang

Suasana Natal di Kota Betlehem, Tepi Barat, terasa berbeda tahun ini, diselimuti oleh keprihatinan akan konflik yang masih berkobar di Palestina.

08 Dec 2023 - 13:03
Natal di Betlehem, Tepi Barat: Keprihatinan di Tengah Kobar Perang
Tumpukan puing-puing membentuk Pohon Natal di sebuah gereja di Betlehem, Palestina, Selasa (5/12/2023). [Anadolu]

Betlehem, (afederasi.com) - Suasana Natal di Kota Betlehem, Tepi Barat, terasa berbeda tahun ini, diselimuti oleh keprihatinan akan konflik yang masih berkobar di Palestina. Meski merayakan kelahiran Yesus Kristus, kota bersejarah ini tidak melibatkan diri dalam perayaan yang berlebihan, mengingat kondisi perang yang terus berlanjut di wilayah tersebut.

Menariknya, salah satu gereja di Betlehem memilih pendekatan yang sangat simbolis dalam mendekorasi untuk Natal kali ini. Mereka menggunakan puing-puing bangunan yang menjadi sasaran serangan militer Israel di Palestina sebagai bagian dari dekorasi mereka. Puing-puing tersebut menjadi lambang dari serangan Israel yang melibatkan kehancuran di kawasan Gaza.

Dekorasi Natal dari Puing-puing: Pesan Damai di Tengah Konflik

Gereja-gereja di wilayah pendudukan Palestina memutuskan untuk membatasi perayaan kelahiran Yesus Kristus dengan melakukan doa dan ritual ilahi. Tanpa dekorasi pohon Natal khas, mereka memilih menggunakan dekorasi yang terbuat dari puing-puing, menggambarkan kehancuran dan keberanian di tengah konflik yang sedang berlangsung.

Dekorasi tersebut terdiri dari gundukan puing-puing beton di sekitar pohon zaitun, di tengahnya ditempatkan mainan bayi sebagai pengingat akan bayi-bayi yang terperangkap di bawah reruntuhan. Reruntuhan ini dihiasi dengan ranting pohon yang patah, ikon-ikon, dan lilin, menciptakan gambaran yang menyentuh hati tentang kehidupan di tengah kekacauan.

Pesan Kebersamaan dalam Penderitaan

Pendeta Munzir Ishak dari Gereja Natal Evangelis Lutheran menyampaikan pesan kebersamaan dalam penderitaan melalui dekorasi unik ini. "Pesan kami kepada diri kami sendiri adalah ini: Tuhan beserta kita dalam penderitaan ini. Kristus lahir dalam solidaritas dengan mereka yang menderita dan menderita. Tuhan menyertai mereka yang tertindas," ungkapnya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

Ishak juga ingin menyampaikan kepada gereja-gereja di seluruh dunia bahwa Natal di Palestina tahun ini membutuhkan pemahaman dan simpati. "Sayangnya, Natal di Palestina seperti ini. Kita dihadapkan pada perang genosida yang menargetkan seluruh warga Palestina. Sayangnya, ketika kita memikirkan kelahiran Bayi Kristus, kita memikirkan bayi-bayi yang dibunuh secara brutal di Gaza," tambahnya dengan harapan agar dunia lebih memahami situasi sulit yang dialami oleh warga Palestina pada saat-saat spesial ini seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com. (mg-1/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow