Rahasia Sukses Bisnis Herbal Instan Penghangat Badan

01 Feb 2026 - 17:53
Rahasia Sukses Bisnis Herbal Instan Penghangat Badan
Suyanto (46) saat menunjukan produk jahe instan saat ditemui dirumahnya, Minggu (01/02/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Memasuki musim penghujan, kebutuhan akan minuman penghangat dan penambah imunitas tubuh semakin tinggi. Di tengah tren hidup sehat, minuman herbal instan menjadi pilihan praktis masyarakat. Salah satu pelaku usaha yang meraih sukses di bidang ini adalah Suyanto (46), perajin bubuk rempah asal Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Dengan produk unggulan seperti bubuk jahe merah, jahe emprit, kunyit, dan temulawak, usaha rumahan Yanto—yang akrab disapa Yanto—kini banyak diburu pelanggan. Produknya tidak hanya menjadi alternatif minuman sehat, tetapi juga solusi praktis untuk menghangatkan tubuh dan meningkatkan daya tahan di kala cuaca tak menentu.

"Biasanya untuk minuman penambah imun serta daya tahan tubuh. Rempah jahe ini juga bagus untuk menghangatkan badan. Sekali produksi kami mengolah antara 5 hingga 15 kilogram bahan baku," terang Yanto kepada afederasi.com, Minggu (1/2/2026).

Yanto mengungkapkan, permintaan terhadap bubuk rempah instan mengalami peningkatan signifikan selama musim hujan. Produknya yang siap konsumsi—cukup diseduh dengan air hangat—menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang ingin praktis tanpa kehilangan khasiat herbal.

Dari segi pemasaran, produk herbal Yanto telah menjangkau pasar yang luas. Dengan harga berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 20.000 per kemasan, bubuk rempahnya dikirim ke berbagai pusat oleh-oleh dan toko di Jombang. Tidak hanya itu, ia juga memanfaatkan platform penjualan online untuk memperluas jangkauan.

"Untuk omzet penjualan, kisaran Rp 8 hingga 15 juta per bulan. Bahan baku utama kami dapat dari warga sekitar, dan sudah mencukupi. Kalau habis, ada pemasok dari luar Jombang," ungkapnya.

Tidak berhenti pada produk tunggal, Suyanto terus berinovasi dengan membuat berbagai campuran rempah. Selain varian dasar, ia juga memproduksi racikan khusus seperti campuran jahe merah, temulawak, kunyit putih, dan temu hitam. Kombinasi ini diracik berdasarkan pengetahuan tradisional dan permintaan pasar.

"Yang paling banyak diminati pelanggan adalah jahe merah, jahe emprit, dan kombinasi beberapa rempah. Itu yang paling laris," pungkas Yanto.

Salah satu pembeli produk  jahe instan, Dwi (39), sanggat senang dengan adannya produk ini kareana  tidak lagi capek kalau buat minuman jahe tinggal tuang di kasih air panas di seduh dan sudah bisa diminum. 

" Rasanya pas dan jahenya sangat terasa saat diminum serta harganya juga terjangkau, cocok untuk di simpan di rumah dan di buat buah tanggan untuk teman atau keluarga, " pungkasnya.

Keberhasilan bisnis bubuk herbal instan Suyanto tidak lepas dari beberapa faktor kunci. Pertama, kualitas bahan baku yang diambil dari petani lokal maupun pemasok terpercaya.

Kedua, kemasan yang praktis dan higienis, memudahkan konsumen untuk menyeduhnya kapan saja. Ketiga, strategi pemasaran yang menggabungkan saluran offline (toko dan pusat oleh-oleh) dengan pemasaran digital untuk meraih pasar yang lebih luas.

Usaha rumahan ini tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi Suyanto, tetapi juga memberdayakan ekonomi warga sekitar sebagai penyuplai bahan baku.

Di tengah gempuran produk kemasan modern, produk herbal tradisional seperti buatan Yanto membuktikan bahwa warisan kuliner dan jamu Nusantara masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, terutama saat musim penghujan tiba. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow