Mengenal Tugu Hajam Wuruk Jombang, Saksi Bisu Kemenangan Operasi Penyusupan TNI

03 Nov 2025 - 08:35
Mengenal Tugu Hajam Wuruk Jombang, Saksi Bisu Kemenangan Operasi Penyusupan TNI
  Berdiri kokoh Tugu Hajam Wuruk, sebuah monumen yang dibangun untuk mengabadikan sejarah heroik perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tugu yang diresmikan pada 10 November 1957, di Desa Kedungrejo Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang Jawa Timur, Senin (03/11/2025). (Foto:Santoso/afedeasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Sebuah tugu kokoh berdiri dengan pride di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. tugu tersebut memiliki warna dasar putih.

Bentuknya seperti lingga atau paku terbalik dan jika diukur dari permukaan tanah, ketinggiannya hampir 10  meter,dengan lambang bintang di puncaknya ini adalah Tugu Hajam Wuruk, sebuah monumen yang dibangun untuk mengabadikan sejarah heroik perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tugu yang diresmikan pada 10 November 1957 ini menyimpan cerita tentang keberhasilan operasi penyusupan (wingate) yang dipimpin oleh Mayor Pamoe Rahardjo.

Moch Faisol, seorang penelusur sejarah perjuangan Jombang, menjelaskan bahwa Tugu Hajam Wuruk dibangun pada era Presiden Soekarno untuk mengenang kemenangan pasukan TNI.

"Operasi wingate komando Hajam Wuruk ini berhasil menghancurkan pasukan Belanda dan mampu menguasai kembali wilayah Pacet dan sekitarnya mulai 1 Januari 1949 hingga 12 Februari 1949," beber Moch Faisol kepada media, Minggu (02/11/2025).

Latar belakang pembangunan tugu ini tidak lepas dari jatuhnya Kota Jombang ke tangan Belanda pada 29 Desember 1948. Pasukan TNI pun menyingkir dan memulai perang gerilya. Menjelang tahun baru 1949, beberapa batalyon TNI mendapat perintah untuk menyusup ke wilayah kekuasaan musuh di Pacet, Mojokerto.

Operasi ini memuncak dalam sebuah pertempuran dahsyat pada malam tahun baru, 1 Januari 1949, yang berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan TNI.

Kesatuan tempur yang tergabung dalam Komando Hajam Wuruk merupakan gabungan dari berbagai batalyon dan kesatuan, menunjukkan besarnya operasi ini. Kekuatannya meliputi:

Batalyon Bambang Yuwono (TKR)
Batalyon Mansyur Solichi (eks Hizbullah)
Batalyon Sucipto
Batalyon Isa Idris
Kesatuan Mobrig (Mobile Brigade)
Sebagian Batalyon Munasir (eks Hizbullah)

"Sebagian dari kekuatan komando Hajam Wuruk adalah pasukan eks Hizbullah dari Jombang. Inilah salah satu alasan mengapa tugu ini didirikan di Jombang," pungkas Moch Faisol.

Meski sempat berjaya, pasukan Belanda kemudian melancarkan serangan balik besar-besaran. Pada 13 Februari 1949, pasukan TNI terpaksa mundur dari Pacet. Namun, keberhasilan mereka sebelumnya dalam menguasai wilayah selama lebih dari sebulan telah membuktikan kekuatan dan strategi gerilya TNI.

Kisah heroik Operasi Hajam Wuruk ini juga diabadikan dalam sebuah buku berjudul "Gerilya dan Diplomasi, Operasi Hayam Wuruk Sebuah Epik Dalam Revolusi" yang ditulis langsung oleh sang komandan, Mayor Pamoe Rahardjo.

Tugu Hajam Wuruk tidak hanya sekadar monumen, tetapi juga pengingat akan semangat perjuangan dan persatuan berbagai kesatuan TNI dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Keberadaannya menjadi destinasi penting bagi mereka yang ingin menelusuri jejak sejarah revolusi di Jawa Timur, khususnya di Jombang. (san)

 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow