Mengenal Topeng Jatiduwur Jombang: Seni Sakral Bernapaskan Sastra Panji Masih Lestari
Jombang, (afederasi.com) – Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai. Salah satunya adalah Wayang Topeng Jatiduwur, sebuah seni pertunjukan topeng tradisional yang lahir, tumbuh, dan bertahan di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Seni ini bukan sekadar tontonan, melainkan juga sarat akan nilai-nilai sakral, sejarah, dan filosofi yang mendalam.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya, Isma Hakim Rahmat, menjelaskan kepada media afederasi pada Sabtu (02/05/2026) bahwa pertunjukan Topeng Jatiduwur memiliki keunikan yang hampir mirip dengan pertunjukan wayang kulit. Sebab, dalam pementasannya, seorang dalang berperan sentral mengatur jalannya cerita.
"Proses pertunjukan ini hampir sama dengan pertunjukan wayang, karena ada seorang dalang yang mengatur jalan cerita selama pertunjukan berlangsung," ujar Mas Hakim biasa disapa.
Konon, topeng atau wayang tersebut diciptakan oleh Ki Purwo, seorang warga sekaligus dalang pertama di Jatiduwur. Hingga kini, wayang-wayang tersebut disimpan dengan khidmat di dalam sebuah kotak sakral di rumah salah satu keturunan Ki Purwo.
Jumlah wayang atau topeng tersebut mencapai 33 buah, dan masyarakat setempat meyakini bahwa topeng-topeng itu memiliki kekuatan magis. Menurut cerita turun-temurun, topeng-topeng jika tidak ada yang mengurus, maka maka topeng tersebut disuruh dikembalikan di lokasi ringin (Pohon Beringin lokasi Ki Pureo bertapa, yang kini disebut punden, red) di desa ini.
Salah satu yang paling istimewa adalah Topeng Klono. Berwarna emas, dengan kesan wajah priyayi dan kesatria, topeng ini dipercaya mampu menyembuhkan penyakit warga.
"Topeng Klono sering dijadikan sarana untuk mengobati penyakit warga. Oleh karena itu, perawatan dari topeng-topeng tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan," tukas Mas Hakim.
Setiap kali selesai pementasan, topeng-topeng tersebut tidak serta-merta disimpan. Ada ritual khusus: dimasukkan ke dalam pembungkus, lalu ke dalam kotak sakral, dan ditaburi bunga. Karena nilai sakralnya yang tinggi, topeng asli jarang digunakan dalam latihan. Para penari biasanya berlatih memakai topeng duplikasi.
Topeng Jatiduwur pada umumnya digunakan sebagai media untuk menepati nazar atau janji seseorang. Pertunjukan ini sering diadakan oleh warga yang berhajat atau mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu.
Dalam pementasannya, dahulu topeng ini sering dibawakan oleh penari berusia di atas 50 tahun. Namun kini, mulai terjadi regenerasi. Pemuda dan pemudi setempat mulai diikutsertakan dalam pementasan, meskipun untuk sementara belum memegang peranan yang begitu penting dalam adegan tarian.
Peran dalang tetap menjadi kunci. Dalang tidak hanya mengarahkan para penari yang melakukan gerakan tarian sebagai lambang ekspresi tokoh, tetapi juga bertugas membawakan catur (narasi dan dialog) seperti dalam pertunjukan wayang kulit.
Cerita yang dipentaskan dalam Topeng Jatiduwur diambil dari Sastra Panji, kumpulan cerita klasik dari masa Jawa zaman klasik yang mengisahkan kepahlawanan dan cinta. Lakon utamanya adalah Panji Inu Kertapati dan pasangannya, Dewi Sekartaji, dengan latar masa Kerajaan Kadiri atau Jenggala.
Dua cerita yang paling umum dipentaskan adalah:
1. Patah Kuda Narawangsa (atau disebut juga Sekartaji Kembar): Bercerita tentang perjalanan Dewi Sekartaji untuk menemukan jati dirinya sebelum akhirnya kembali bahagia bersama Panji Inu Kertapati.
2. Wiruncana Murca: Berkisah tentang perjuangan Panji Inu Kertapati dalam mendapatkan cinta Dewi Sekartaji.
Menariknya, alur cerita tidak terbatas pada dua lakon tersebut dan bersifat dinamis, bisa berkembang sesuai kreativitas dalang.
Sastra Panji bukan hanya milik Jombang atau Jawa Timur. Karya sastra dan budaya agung ini telah menyebar luas ke berbagai belahan Nusantara dan dunia. Versi turunan dari cerita Panji dapat ditemukan dalam cerita rakyat seperti Golek Kencana, Ande-Ande Lumut, dan Keong Mas.
Bahkan, Sastra Panji memiliki banyak versi di berbagai daerah, mulai dari Jawa, Bali, Kalimantan, hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina. Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh budaya Indonesia di kancah internasional.
Dengan segala keunikan dan nilai luhurnya, Topeng Jatiduwur bukan hanya warisan leluhur yang patut dibanggakan, tetapi juga aset budaya yang harus terus dilestarikan oleh generasi muda Jombang dan Indonesia pada umumnya. (san)
What's Your Reaction?

