Kontroversi Kedatangan Pengungsi Rohingya di Aceh: Presiden Perintahkan Penanganan, Catatan Perilaku Buruk Memperkeruh Situasi
Meskipun menerima penolakan dari warga Aceh, para pengungsi Rohingya terus mendarat di Indonesia.
Aceh, (afederasi.com) - Meskipun menerima penolakan dari warga Aceh, para pengungsi Rohingya terus mendarat di Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 1.400 pengungsi Rohingya tinggal di berbagai daerah di Aceh, seperti Bireuen, Sabang, dan Pidie.
Pada Sabtu (2/12/2023), 139 pengungsi Rohingya baru mendarat di Pantai Desa Le Muelee, Sabang, Aceh, namun sekali lagi ditolak oleh warga. Walaupun dihadapkan pada penolakan, pengungsi Rohingya tidak menunjukkan niat untuk meninggalkan Aceh.
Pemerintah sedang menangani konflik antara pengungsi Rohingya dan warga setempat. Presiden Jokowi telah memerintahkan Menko Polhukam Mahfud MD untuk menangani masalah ini.
Meski demikian, ratusan warga Aceh yang menolak kedatangan pengungsi Rohingya menyatakan penolakan mereka didasari oleh perilaku buruk para pengungsi Rohingya sebelumnya.
Dilaporkan bahwa pengungsi Rohingya terlibat dalam kasus perdagangan orang, tindak pemberontakan dengan mencoba kabur dari kamp, mencuri kelapa milik warga, melakukan tindak asusila di kamp pengungsian, membuang nasi dan bantuan yang diberikan oleh warga, dan bahkan mengeluhkan porsi nasi yang dianggap terlalu sedikit, meskipun sebenarnya sudah mencukupi.
Presiden Jokowi menegaskan penanganan masalah ini melibatkan Mahfud MD, pemerintah daerah, dan UNHCR. Kasus-kasus perilaku buruk para pengungsi Rohingya akan menjadi fokus dalam menyelesaikan ketegangan antara mereka dan warga Aceh. (mg-1/jae)
What's Your Reaction?



