Kenduri Rakyat di Jantung Blitar: Ribuan Tumpeng, Satu Api Bung Karno yang Tak Padam

21 Jun 2025 - 22:59
Kenduri Rakyat di Jantung Blitar: Ribuan Tumpeng, Satu Api Bung Karno yang Tak Padam
Kenduri Rakyat di area makam Bung Karno Blitar. (Anang/afederasi.com) 

Blitar, (afederasi.com) - Jalan Ir. Soekarno hingga Sultan Agung berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai penjuru Blitar dan sekitarnya tumpah ruah di tengah perhelatan Selametan Akbar Haul ke-55 Bung Karno, Jumat sore. Di tengah massa, berdiri seorang pemimpin muda, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau yang lebih dikenal dengan Mas Ibin, yang memimpin langsung jalannya kenduri rakyat sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Proklamator.

Dengan lebih dari 3.000 tumpeng ambeng yang dibagikan secara massal, suasana meriah berubah menjadi khidmat. Masyarakat duduk melingkar, menikmati nasi kuning dalam kebersamaan, sebagaimana tradisi Jawa yang telah mengakar kuat dalam budaya lokal. Tapi bagi Mas Ibin, ini lebih dari sekadar tradisi atau seremoni tahunan.

“Ini bukan sekadar seremoni! Kita hadirkan jiwa Bung Karno lewat tradisi: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Meneladani Trisakti, Pancasila, dan semangat kerakyatannya adalah kewajiban kita sebagai pewaris kota kelahirannya,” seru Mas Ibin di tengah kerumunan.

Filosofi ambeng, yang mengedepankan kesetaraan sosial dan spiritualitas kebersamaan, menjadi simbol konkret perjuangan Bung Karno yang dihidupkan dalam bentuk paling membumi. Dalam sambutannya, Mas Ibin menekankan bahwa perjuangan ideologis Bung Karno tak cukup dirayakan di ruang-ruang seminar, tetapi harus dihidupkan lewat aksi dan tradisi.

Di antara para tamu, hadir KH. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), ulama kharismatik asal Yogyakarta. Kehadirannya disambut hangat oleh Mas Ibin yang menyebut beliau sebagai “penerus semangat toleransi Bung Karno” — menandai pentingnya peran agama dalam merawat kebangsaan yang inklusif dan berkeadaban.

Setelah memimpin tahlil akbar untuk almarhum Bung Karno, Mas Ibin menyempatkan diri berkeliling menyapa warga, menyentuh langsung denyut kebersamaan masyarakat yang sedang menikmati hidangan tumpeng.

“Setiap suap nasi ini harus mengingatkan kita: perjuangan Bung Karno tak pernah selesai. Kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian budaya harus kita rajut dalam keseharian,” ucapnya dengan nada tegas namun penuh kehangatan.

Acara ini juga menjadi magnet kehadiran sejumlah tokoh nasional, seperti Ganjar Pranowo, Romy Soekarno (cucu Bung Karno), dan Moh. Said Abdullah, Pimpinan DPR RI. Mas Ibin menyebut kehadiran mereka sebagai penguat komitmen nasional terhadap pemikiran dan nilai-nilai Bung Karno.

 “Blitar tak akan biarkan pemikiran Bung Karno punah! Lewat kenduri rakyat seperti inilah kita rawat apinya – bukan di museum, tapi di hati masyarakat,” ujarnya lantang, disambut riuh tepuk tangan.

Lebih dari sekadar seremoni haul, acara ini menjadi manifestasi hidup dari ideologi Pancasila yang membumi: gotong royong, kesetaraan, nasionalisme, dan keadilan sosial. Dalam suasana yang cair antara pemimpin dan rakyat, Blitar memperlihatkan wajah Indonesia yang sejati — tak elitis, tak birokratis, tapi menyatu dalam semangat kebangsaan.

“Bung Karno bukan sekadar sejarah. Ia nyala yang harus terus kita kobarkan dari Blitar untuk Indonesia,” tutup Mas Ibin. (adv/ang) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow