Kelola Lingkungan Berbasis Data, JIIPE Perkuat Daya Saing Kawasan Industri Berkelanjutan

“Kami mengapresiasi langkah BKMS yang telah menginisiasi penanaman ribuan pohon mangrove di kawasan Kalimireng. Selain membantu mengurangi abrasi dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, mangrove menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang,” katanya.

30 Jun 2026 - 23:32
Kelola Lingkungan Berbasis Data, JIIPE Perkuat Daya Saing Kawasan Industri Berkelanjutan
Penanaman mangrove di kawasan pesisir menjadi salah satu upaya tata kelola lingkungan berkelanjutan yang dilakukan JIIPE (Ist/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Pengelolaan lingkungan kini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing kawasan industri. Di tengah meningkatnya arus investasi dan tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, kawasan industri tidak lagi cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan utilitas, tetapi juga dituntut mampu menghadirkan tata kelola lingkungan yang kredibel, terukur, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut terus diperkuat PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) selaku pengelola Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE). Melalui pendekatan berbasis data, penguatan infrastruktur lingkungan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, JIIPE berupaya membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Hal itu mengemuka dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diselenggarakan BKMS. Kegiatan tersebut menghadirkan Pemerintah Kabupaten Gresik, akademisi, tenant kawasan, masyarakat pesisir, serta pelaku industri untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup harus diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan dunia usaha.

“Dibutuhkan kolaborasi bersama industri, masyarakat pesisir, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami mengapresiasi sinergi yang telah dibangun, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi nelayan serta rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove,” ujarnya.

Menurut dr. Alif, sinergi yang kuat antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Guru Besar Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Prof. Eddy Setiadi Soedjono, menjelaskan bahwa kualitas lingkungan suatu kawasan tidak dapat diukur hanya dari satu parameter atau satu kali pengamatan.

“Perubahan kualitas perairan, kondisi ekosistem pesisir, maupun produktivitas sumber daya perikanan dipengaruhi banyak faktor yang saling berinteraksi. Oleh karena itu diperlukan monitoring jangka panjang, data berkala, serta kajian multidisiplin sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi lingkungan suatu kawasan,” jelasnya.

Prof. Eddy menambahkan, pengambilan keputusan yang didasarkan pada data dan kajian ilmiah akan menghasilkan kebijakan lingkungan yang lebih objektif, terukur, dan mampu mendukung keberlanjutan kawasan dalam jangka panjang.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, mengatakan pembangunan industri dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan melalui sistem monitoring yang konsisten serta didukung aksi nyata di lapangan.

“Kami mengapresiasi langkah BKMS yang telah menginisiasi penanaman ribuan pohon mangrove di kawasan Kalimireng. Selain membantu mengurangi abrasi dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, mangrove menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang,” katanya.

Sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan, JIIPE secara rutin melakukan pemantauan melalui pengujian laboratorium terakreditasi yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Hasil monitoring tersebut menjadi dasar evaluasi sekaligus pengambilan kebijakan dalam pengelolaan kawasan industri secara berkelanjutan.

Selain memperkuat sistem pengelolaan lingkungan berbasis data, JIIPE juga menjalankan berbagai program rehabilitasi ekosistem pesisir yang diharapkan memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JIIPE bersama Pemerintah Kabupaten Gresik, akademisi, tenant kawasan, masyarakat pesisir, dan berbagai pemangku kepentingan melakukan penanaman 1.000 bibit mangrove, pelepasan 1.000 benih ikan, serta 100 benih kepiting di kawasan Kalimireng.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik, Arief Witjaksono, menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sumber daya perikanan di kawasan pesisir.

“Harapannya hasil tangkapan dapat semakin tersedia di sekitar kawasan sehingga nelayan tidak perlu melaut lebih jauh. Upaya ini harus dijaga bersama agar manfaat ekologis dan ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Tokoh masyarakat pesisir Kalimireng, Isharul, berharap kolaborasi yang telah terjalin antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan pelestarian lingkungan.

Sementara Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gresik, Hamzah Takim, menilai penanaman mangrove di sepanjang aliran Sungai Kalimireng merupakan langkah positif dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan kawasan tangkap nelayan.

Sebagai bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), JIIPE juga terus memperkuat infrastruktur lingkungan di dalam kawasan.

Saat ini JIIPE telah mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) untuk mendukung pengelolaan sampah kawasan. Seiring berkembangnya kawasan industri, BKMS juga tengah menyiapkan pengembangan fasilitas tersebut menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) guna meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah secara mandiri dan terintegrasi.

Direktur PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), Bambang Soetiono, menegaskan bahwa tata kelola lingkungan kini menjadi bagian dari strategi pembangunan kawasan industri yang berdaya saing.

“Ke depan, daya saing kawasan industri tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan investasi, tetapi juga oleh kredibilitas tata kelola lingkungannya. Karena itu kami terus memperkuat monitoring berbasis data, mengembangkan infrastruktur lingkungan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, tenant, dan masyarakat sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui berbagai langkah tersebut, JIIPE menegaskan komitmennya untuk menjadikan pengelolaan lingkungan sebagai salah satu pilar utama dalam meningkatkan daya saing kawasan industri, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow