Jokowi: Indonesia Punya Kesempatan Menjadi Negara Maju dalam Tiga Periode Kepemimpinan
Presiden Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengangkat status negara ini dari negara berkembang menjadi negara maju.
Jakarta, (afederasi.com) - Presiden Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengangkat status negara ini dari negara berkembang menjadi negara maju. Menurutnya, kesempatan ini terbentang dalam tiga periode kepemimpinan nasional yang akan datang.
Jokowi menjelaskan pandangannya ini dalam pidato di hadapan para CEO dalam acara 100 CEO Forum yang digelar di kawasan Ibu Kota Negara (IKN), Kalimantan Timur, pada Kamis (2/11/2023)
"Kesempatan ini sudah bolak balik saya sampaikan, kesempatan itu ada dalam tiga kepemimpinan nasional ke depan, tiga kali kepemimpinan nasional," kata Jokowi seperti yang dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.
Beliau juga mencatat bahwa kesempatan yang dimaksud sering kali telah disampaikan oleh lembaga-lembaga seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), hingga McKinsey.
Untuk memastikan keyakinannya dalam pernyataan tersebut, Jokowi meminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk melakukan perhitungan ulang.
Tiga periode kepemimpinan nasional yang dimaksud oleh Jokowi adalah tahun 2024, 2029, dan 2034. Ia meyakini bahwa tiga periode tersebut bisa menjadi kunci bagi Indonesia untuk melompat menjadi negara maju.
Meskipun Indonesia memiliki peluang, Jokowi mengakui bahwa akan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan itu tidaklah mudah, dan untuk mewujudkan impian Indonesia menjadi negara maju, diperlukan konsistensi dan keberlanjutan dalam perencanaan dan pelaksanaan.
Jokowi merasa bahwa dalam budaya kepemimpinan Indonesia, terjadi kebiasaan untuk kembali ke titik awal ketika terjadi pergantian pemimpin.
"Apakah kita mau terus seperti itu? Kalau sudah SMP, seharusnya sudah bisa masuk ke SMA, masuk S1, S2, S3, S4, S5, S6. Konsistensi itu dibutuhkan," ungkapnya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.
Jokowi juga mengambil inspirasi dari Guyana, sebuah negara di Amerika Selatan yang awalnya adalah negara berkembang dan kemudian mampu berkembang menjadi negara maju. Guyana pernah berada dalam situasi termiskin, tetapi kemudian menemukan potensi minyak yang mendukung pertumbuhan ekonominya.
Negara itu berhasil menjalankan pengelolaan minyaknya dengan bekerja sama dengan sektor swasta. Jokowi menegaskan bahwa model ini bisa diadopsi oleh Indonesia, dengan pemerintah memfasilitasi dan mengatur peran swasta dalam pengelolaan sumber daya.
"Kini Guyana menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, mencapai 62 persen pada tahun 2022," katanya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.
Jokowi berharap Indonesia dapat mengikuti jejak Guyana dengan pemerintah dan swasta bisa bekerja sama, seperti yang telah dijalankan dalam pengelolaan tambang oleh Freeport sebagai salah satu contoh.
"Ada swasta, ada BUMN, dan pemerintah mendapat manfaat. Dengan kerjasama yang baik, ada pajak badan, pajak karyawan, bea ekspor, royalti, PNBP, dan para pemegang saham mendapatkan dividen yang cukup besar dari Freeport, semuanya bekerja sama," ungkapnya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com. (mg-1/mhd)
What's Your Reaction?



