Himbauan Gubernur Tak Pengaruhi Penjualan Kembang Api di Lamongan

28 Dec 2025 - 00:50
Himbauan Gubernur Tak Pengaruhi Penjualan Kembang Api di Lamongan
Pedagang Kembang Api. (Iyan Farikh/Afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Menjelang perayaan pergantian tahun baru 2026, para pedagang musiman kembang api dan terompet mulai memadati sejumlah ruas jalan di Pasar Tingkat Lamongan. Meski antusiasme warga mulai terlihat, para pedagang mengaku tantangan utama tahun ini bukanlah himbauan pemerintah agar tidak menggelar pesta kembang api, melainkan faktor cuaca yang tidak menentu.

Salah satu pedagang kembang api, Romlah mengaku tetap optimistis menjajakan dagangannya meski sempat mendengar adanya imbauan pembatasan pesta kembang api. Menurutnya, sejauh ini penjualan masih berjalan normal, namun hujan yang sering turun di sore hari menjadi kendala utama bagi dirinya.

"Kalau pengaruh (himbauan) belum paham ya mas, tapi kalau masalah cuaca ini pasti berpengaruh. Karena setiap sore kan hujan, biasanya anak-anak cari kembang api itu waktu sore hari. Sekarang musimnya lagi hujan dan angin," ujar Romlah saat ditemui di lapaknya. Sabtu (27/12/2025) sore.

Ia menambahkan bahwa puncak penjualan biasanya terjadi tepat pada tanggal 31 Desember. "Bismillah saja, rezeki sudah ada yang mengatur. Puncaknya biasanya nanti di tanggal 31, itu sudah jadi tradisi setiap tahun baru pasti ada terompet dan kembang api," imbuhnya.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Kasianto, seorang pedagang terompet musiman. Ia menyebutkan bahwa dalam sehari dirinya mampu menjual sekitar 30 buah terompet dengan berbagai model.

Tahun ini, terompet dengan fitur lampu warna-warni menjadi produk yang paling banyak diburu oleh masyarakat, terutama anak-anak.

"Alhamdulillah sudah mulai agak ramai. Sehari bisa jual sekitar 30 biji. Ada model terompet ular, saksofon, dan yang paling banyak dicari yang ada lampunya ini, mas," kata Kasianto sembari menunjukkan dagangannya.

Harga yang ditawarkan pun cukup variatif dan terjangkau, mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000 tergantung ukuran dan kerumitan modelnya. Sama seperti pedagang kembang api, Kasianto juga memprediksi lonjakan pembeli akan terjadi pada H-1 pergantian tahun.

"Paling murah Rp10.000, yang paling mahal model naga itu Rp25.000. Biasanya puncaknya ya nanti tanggal 31 baru benar-benar ramai," tutupnya.

Meskipun cuaca ekstrem membayangi, para pedagang berharap malam pergantian tahun nanti cuaca akan bersahabat sehingga masyarakat bisa merayakan momen tahun baru dengan meriah, yang sekaligus membawa berkah bagi pendapatan mereka. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow