Geliat Kopi Wonosalam, Dari Lereng Anjasmoro Menuju Pengakuan Indikasi Geografis
Jombang, (afederasi) – Sebuah harapan baru tengah bersemi di lereng Gunung Anjasmoro, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Daerah dengan tanah subur dan udara sejuk ini kian populer sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Jawa Timur, berkat cita rasa khas dan perjuangan untuk meraih pengakuan resmi melalui Sertifikat Indikasi Geografis (IG).
Kopi yang berasal dari Wonosalam, terutama varietas Excelsa, Arabika, dan Robusta, menawarkan profil rasa yang unik dan memikat. Aroma kuat, tingkat keasaman seimbang, serta aftertaste yang meninggalkan kesan mendalam menjadi daya tarik utama bagi para penikmat kopi dan pelaku industri kreatif.
Berdasarkan data resmi dari Dinas Pertanian Kabupaten Jombang pada 2023, luas areal tanaman kopi di daerah ini mencapai 2.006 Hektar.
“Rinciannya adalah Kopi Robusta (1.218 Ha), Kopi Excelsa (668 Ha), dan Kopi Arabika (121 Ha). Dari luas areal tersebut, potensi produksi mencapai 1.371 ton cherry kopi, dengan Robusta menyumbang 901 ton, Excelsa 420 ton, dan Arabika 49 ton,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Moh Rony, Selasa (04/11/2025).
Menyadari potensi dan keunikan ini, Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pertanian pada tahun 2022 mendaftarkan Kopi Excelsa Wonosalam untuk memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM dengan nama “KOPI EXCELSA JOMBANG”.
“Sertifikat IG adalah tanda yang menunjukkan asal suatu barang yang karena faktor geografis—seperti alam dan manusia—memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu, sebagaimana diatur dalam UU No. 20 Tahun 2016. Proses memperoleh IG ini tidak mudah, melibatkan penyusunan dokumen deskripsi, pemeriksaan administrasi, pemeriksaan substansi, dan uji lapangan,” papar Rony.
Rony menjelaskan, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing, Dinas Pertanian Jombang memberikan berbagai dukungan. Bantuan sarana prasarana budidaya, pelatihan, pendampingan petani, hingga fasilitasi pemasaran terus digelontorkan.
“Tujuannya tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat branding ‘Kopi Jombang’ di kancah nasional,” tegasnya.
Dukungan ini pun membuahkan hasil nyata. Kini, sejumlah kelompok tani dan UMKM di Wonosalam telah bertransformasi. Mereka tidak lagi hanya menjual biji kopi mentah, tetapi telah mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti kopi bubuk kemasan premium dan kopi seduh siap minum.
“Dulu kami hanya menjual biji kering. Sekarang kami belajar roasting dan pengemasan sendiri. Hasilnya, keuntungan meningkat dan kopi kami mulai dikenal,” ujar seorang petani muda Wonosalam yang kini aktif dalam kelompok usaha bersama.
Geliat kopi Wonosalam juga telah menyuntikkan semangat baru bagi generasi muda Jombang. Banyak anak muda yang kini memilih kembali ke desa, tertarik mengembangkan potensi agroindustri kopi, membuka kafe, dan menggerakkan wisata kopi Jombang.
Dengan semangat “dari kebun ke cangkir”, Kopi Wonosalam telah menjelma menjadi lebih dari sekadar minuman. Ia adalah simbol kebangkitan ekonomi masyarakat lereng Anjasmoro. Dengan Sertifikat IG sebagai “modal premium”, Excelsa Wonosalam berpotensi menjadi hidden gem atau harta karun tersembunyi kopi Indonesia yang siap bersaing di pasar global.
Harapannya, ke depan Kopi Wonosalam dapat menjadi ikon baru Kabupaten Jombang dan mengukuhkan daerah ini sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Indonesia. (san)
What's Your Reaction?



