Seberapa Kuat Sesungguhnya Militer Rusia?

Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin membuat janji berani: merebut ibu kota Ukraina, Kyiv, dalam tiga hari.

01 Sep 2023 - 11:10
Seberapa Kuat Sesungguhnya Militer Rusia?
Kendaraan militer Rusia ikut serta pada parade Hari Kemenangan, menandai 78 tahun kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua, di Lapangan Merah, Moskow, Rusia 9 Mei 2023

Washington, D.C., (afederasi.com) - Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin membuat janji berani: merebut ibu kota Ukraina, Kyiv, dalam tiga hari. Namun, setelah 18 bulan berlalu, Kremlin harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Kyiv masih berada di tangan lawan. Tak kurang dari 60 miliar dolar Amerika (sekitar Rp900 triliun) telah dikeluarkan untuk perang ini, tetapi hasil yang diharapkan belum tercapai.

Analis dari American Enterprise Institute, Gary Schmitt, menyatakan pandangannya, "Semua orang melihat jumlah dana yang diinvestasikan Kremlin dalam militer Rusia dan berpikir, 'Tentu saja, mereka akan memiliki kemampuan yang luar biasa!'"

Pakar keamanan dan strategi di Atlantic Council, Ian Brzezinski, mengemukakan pandangan bahwa invasi awalnya direncanakan sebagai kampanye jangka pendek, tetapi telah berubah menjadi pertempuran bertahan. "Mereka berada dalam posisi defensif sekarang. Sayangnya, waktu yang cukup panjang memberi mereka peluang untuk memperkuat pertahanan dengan parit, benteng, dan ranjau. Meskipun bukan kekuatan tempur utama, tetapi mereka tetap memiliki pengaruh yang signifikan," ujar Brzezinski.

Dengan jumlah tentara Rusia yang kini mencapai sekitar satu juta orang, Schmitt mengingatkan bahwa mobilisasi tersebut tidak berarti bahwa semua pasukan siap untuk bertempur. "Dulu, mereka dikenal sebagai raksasa lapis baja. Namun, tanpa koordinasi operasional, logistik yang efisien, dan dukungan kekuatan udara yang komprehensif, mereka tidak lagi memiliki dominasi yang sama," ungkap Schmitt.

Brzezinski menyoroti kelemahan dalam disiplin, komando, dan struktur militer Rusia, seperti yang terjadi dalam konflik Georgia pada Agustus 2008. "Prestasinya sangat memprihatinkan! Putin berjanji akan mengubahnya dan memulai upaya modernisasi militer dalam jangka waktu 10-15 tahun," tambahnya.

Upaya modernisasi tersebut meliputi peralihan pasukan menjadi tentara kontrak yang lebih terlatih dan efisien, serta adopsi taktik batalyon yang lebih responsif. Namun, Schmitt mengingatkan bahwa prioritas pada jumlah unit sering kali mengorbankan kualitas, dan para pemimpin militer sering kali membual kemampuan unit mereka untuk memuaskan pemimpin politik. Reformasi ini, menurutnya, masih belum memberikan dampak yang signifikan.

Pada saat ini, Rusia menghadapi kendala sumber daya di Ukraina, dan peningkatan jumlah pasukan saja tidak akan mengatasi masalah ini dengan mudah. Menurut Philip Breedlove, mantan jenderal Angkatan Udara AS yang pernah memimpin NATO dari tahun 2013 hingga 2016, "Jika kita mengira Rusia sudah puas, kita salah besar. Kapabilitas mereka masih kuat. Namun, dibutuhkan tekad politik yang kuat dari Putin untuk terus mengerahkan pasukan dan mengambil tindakan yang diperlukan."

Para ahli berpendapat bahwa reaksi pasukan dari kelompok militer swasta Wagner terhadap kematian pemimpin pemberontak Yevgeny Prigozhin akan memberikan gambaran tentang bagaimana situasi berlanjut. Prigozhin dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat yang diduga terkait dengan campur tangan Putin. (mg-3/mhd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow