SCG Selenggarakan ESG SYMPOSIUM 2023 untuk Mendukung Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia

Perubahan iklim dan isu sosial menjadi ancaman serius yang harus direspons cepat oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Untuk menghadapi tantangan ini, SCG, sebuah perusahaan yang mengelola tiga unit bisnis bergerak dalam sektor Semen, Kemasan, dan Kimia, menggelar ESG SYMPOSIUM 2023 di Indonesia.

03 Nov 2023 - 08:42
SCG Selenggarakan ESG SYMPOSIUM 2023 untuk Mendukung Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia
SCG yang mengelola tiga unit bisnis; Cement-Building Material (Semen), Packaging (Kemasan), dan Chemicals (Kimia), untuk pertama kalinya menggelar ESG SYMPOSIUM 2023.

Bangkok, (afederasi.com) - Perubahan iklim dan isu sosial menjadi ancaman serius yang harus direspons cepat oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Untuk menghadapi tantangan ini, SCG, sebuah perusahaan yang mengelola tiga unit bisnis bergerak dalam sektor Semen, Kemasan, dan Kimia, menggelar ESG SYMPOSIUM 2023 di Indonesia. Acara ini merupakan kelanjutan dari Sustainable Development Symposium yang pernah dilaksanakan sebelumnya.

Dalam ESG SYMPOSIUM 2023 dengan tema "Collaboration for Sustainable Indonesia," SCG mendorong kolaborasi dari berbagai pihak untuk mempercepat target net zero emission, mengatasi kesenjangan sosial, dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui penerapan strategi ESG 4 Plus. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan komitmen iklim Nationally Determined Contribution (NDC), di mana Indonesia bersama 195 negara lainnya sepakat untuk menjaga peningkatan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius melalui berbagai upaya.

Dalam acara ini, SCG memamerkan sejumlah inovasi teknologi dan inisiasi dari ketiga unit bisnisnya, seperti floating solar panel, solar roof, Emisspro® (lapisan emisivitas tinggi untuk meningkatkan efisiensi termal), Alternative Fuel/Alternative Raw Material dan Refuse-derived Fuel, Biogas Utilization, SCGC Green Polymer, dan Cert+ (verifikasi & digitalisasi kredit karbon online untuk industri kehutanan).

President & CEO SCG, Roongrote Rangsiyopash, mengungkapkan bahwa Asia Tenggara rentan terdampak krisis global akibat tingginya populasi dan pesatnya kegiatan ekonomi. Di Indonesia, isu-isu nasional seperti krisis polusi udara, kenaikan permukaan air laut, pengelolaan limbah, dan kesenjangan ekonomi menjadi perhatian utama. Roongrote menyatakan, "Di tengah persoalan nyata, serta lanskap industri yang berkembang pesat, keberlanjutan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban." seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya menciptakan ekosistem yang mendorong investasi untuk membiayai transisi menuju ekonomi hijau. Konsep ESG, yang mencakup Environmental, Social, and Governance, menjadi paradigma baru dalam penciptaan nilai dalam bisnis, menawarkan pendekatan yang luas untuk mitigasi risiko dan penciptaan nilai.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Laksmi Dhewanti, menyampaikan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan ganda, yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Konsep ESG dianggap sebagai gamechanger yang dapat membantu menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan dan memberikan insentif bagi perusahaan dan industri untuk bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan.

Wakil Presiden Eksekutif SCG, Thammasak Sethaudom, menekankan bahwa mencapai pembangunan berkelanjutan dan target NDC memerlukan kolaborasi dari semua sektor. Ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Country Director SCG di Indonesia, Warit Jintanawan, menjelaskan betapa pentingnya keselarasan implementasi ESG di seluruh aspek. Dengan menerapkan ESG, SCG tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga masalah sosial-ekonomi, dengan tujuan meningkatkan pendapatan per kapita Indonesia dan mengurangi angka kemiskinan hingga nol persen.

Untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, SCG mendirikan program pendampingan dan pelatihan bagi usaha lokal, seperti Gerakan Desa Berdikari (Gesari), yang telah mengembangkan lebih dari 70 UMKM di Sukabumi. Salah satu peserta program, Dida Mauludin, berhasil mengubah Desa Sukamaju menjadi Kampung Lele dengan bantuan modal usaha dan pendampingan dari SCG.

Dalam pengakuan atas upaya keberlanjutan perusahaan, SCG meraih skor tertinggi dalam kategori Bahan Bangunan dari Dow Jones Sustainability Indices (DJSI). Prestasi ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap praktik ESG 4 Plus yang mencakup upaya Net Zero, menciptakan produk hijau, menekan kesenjangan sosial, dan merangkul kolaborasi.

ESG SYMPOSIUM 2023 INDONESIA diharapkan dapat mendorong kolaborasi pemerintah, pelaku industri, komunitas sipil, dan masyarakat dalam mencapai target Net Zero yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.(mg-2/mhd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow