Respon Tanggap Darurat Banjir, Dinas SDABK Lamongan Tambah Dua Unit Pompa Mobil
Lamongan, (afederasi.com) – Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Lamongan terus memperkuat infrastruktur pengendalian banjir, khususnya untuk menanggulangi luapan sungai di kawasan Bengawan Jero. Salah satunya dengan menyiagakan tambahan dua unit mobil pompa untuk mempercepat proses pembuangan air ke aliran sungai utama.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas SDABK Kabupaten Lamongan, Saikhu, menjelaskan bahwa penambahan armada ini merupakan bagian dari respon tanggap darurat banjir luapan Bengawan Jero. Dengan adanya tambahan ini, jangkauan penanganan titik genangan diharapkan menjadi lebih maksimal dan responsif.
"Iya Mas, mobil pompa nambah dua unit. Ini bagian dari upaya kita menanggulangi banjir luapan Bengawan Jero," ujar Saikhu saat dikonfirmasi afederasi.com, Rabu (14/1/2026) sore.
Saat ini, tumpuan utama pengendalian air berada di Stasiun Pompa Kuro dan Stasiun Pompa Melik. Di Stasiun Pompa Kuro, terdapat total 14 unit pompa dengan gabungan kapasitas mencapai 10.900 liter per detik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.150 liter per detik dalam posisi aktif beroperasi, sementara sisanya sebesar 2.750 liter per detik disiagakan sebagai cadangan.
Rincian kekuatan di Stasiun Kuro terdiri dari tiga pompa milik Provinsi berkapasitas masing-masing 2.000 liter per detik, di mana satu unit disiagakan untuk pergantian. Selain itu, terdapat dua unit pompa dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo berkapasitas 1.000 liter per detik yang seluruhnya aktif.
Pemerintah Kabupaten Lamongan sendiri menyiagakan dua unit pompa 500 liter per detik dan satu unit pompa 400 liter per detik dalam kondisi aktif. Kekuatan ini didukung pula oleh enam unit pompa berkapasitas 250 liter per detik, yang mana tiga di antaranya merupakan mobil pompa yang aktif bekerja.
Saikhu menekankan bahwa penggunaan pompa dilakukan dengan sistem rotasi atau bergantian. Di Stasiun Pompa Melik misalnya, dari tiga unit pompa berkapasitas 500 liter per detik, hanya dua yang dioperasikan secara bersamaan, sementara satu unit lainnya dalam posisi istirahat.
Langkah ini diambil untuk menjaga performa mesin agar tidak mengalami kerusakan akibat panas berlebih (overheat). Pengaturan jeda ini sangat penting mengingat beban kerja pompa yang cukup berat saat debit air meningkat.
"Jadi pompa yang off itu buat gantian pendinginan. Kadang ya panas, jadi minta perawatan juga. Pengoperasiannya bisa berubah-ubah sesuai kondisi keamanan pompa di lapangan," pungkas Saikhu. (yan)
What's Your Reaction?




