Pemkab Situbondo Optimalkan Program Jambanisasi dengan Anggaran Rp 1,9 Miliar dari DBHCHT
Situbondo, (afederasi.com) – Anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 77 miliar di Kabupaten Situbondo dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat.
Salah satu program unggulannya adalah Jambanisasi, yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo dengan alokasi anggaran sebesar Rp 1,9 miliar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, dr. Sandy Hendrayono, mengungkapkan bahwa dana tersebut dialokasikan untuk membangun 152 unit jamban di 26 desa, dengan tujuan meningkatkan akses sanitasi yang layak bagi masyarakat.
"Pembangunan jamban ini akan dilakukan dalam dua tahap pencairan. Hingga akhir 2024, kami menargetkan pembangunan rampung di desa-desa yang belum Open Defecation Free (ODF)," ujarnya, Jumat (4/10/2024).
Pembangunan jamban ini dilakukan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di setiap desa. Dinkes hanya berperan sebagai pengawas, sementara dana langsung ditransfer ke rekening KSM melalui Bank Jatim.
"Kami hanya mengawasi pelaksanaannya, sementara pembangunan sepenuhnya dilakukan oleh KSM setempat," jelas dr. Sandy.
Desa-desa yang menjadi sasaran pembangunan jamban keluarga antara lain Jatisari, Ketowan, Jetis, Widoropayung, Cura Suri, Kumbang Sari, dan Patemon, dengan prioritas pada desa yang belum ODF. Hingga kini, pencairan tahap pertama telah dilakukan pada 27 Agustus 2024, karena progres pembangunan telah mencapai lebih dari 50 persen. Tahap kedua diharapkan cair pada September.
Program Jambanisasi ini dinilai krusial dalam upaya memutus rantai penyebaran penyakit, terutama di wilayah terpencil yang masih minim fasilitas sanitasi. Dengan adanya jamban, masyarakat tak lagi harus melakukan aktivitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di sungai, yang sebelumnya umum dilakukan.
Meski Kabupaten Situbondo sudah dideklarasikan sebagai salah satu daerah yang bebas dari buang air besar sembarangan (ODF), Pemkab melalui Dinkes tetap berkomitmen mengoptimalkan pembangunan jamban hingga seluruh keluarga memiliki akses sanitasi layak.
"Target kami adalah setiap rumah memiliki jamban sendiri, bukan lagi digunakan bersama oleh beberapa keluarga," pungkas dr. Sandy.(vya/dn)
What's Your Reaction?



