Gerak dalam Gelap: Dosen Unesa Bangun Kepercayaan Diri Anak Tunanetra Lewat Koreografi Tari di Jombang
Jombang, (afederasi.com) – Di balik senyum malu-malu para siswa SLB Negeri Jombang, tersimpan semangat luar biasa untuk menaklukkan gelap lewat gerak dan irama. Bukan sekadar menari, tetapi mereka sedang belajar percaya diri, mengenali tubuhnya, dan berani mengekspresikan diri di hadapan dunia.
Upaya mulia ini dipimpin oleh Dr. Setyo Yanuartuti, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa), bersama tim peneliti yang terdiri dari Dr. Arif Hidajad, Dr. Pamuji, Sri Mulyani, dan Aditya Putra Biantoro. Mereka berkolaborasi dengan pihak SLB Negeri Jombang dalam riset pengembangan koreografi tari khusus bagi anak penyandang disabilitas netra.
“Bagi anak tunanetra, tantangan terbesarnya bukan sekadar gerak, tapi keberanian untuk percaya pada diri sendiri,” ujar Dr. Setyo Yanuartuti di sela kegiatan penelitian.
Tari Sebagai Terapi Rasa dan Kepercayaan Diri
Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya kepercayaan diri anak-anak disabilitas netra akibat keterbatasan fisik dan motorik mereka. Banyak di antara mereka yang enggan berinteraksi karena merasa berbeda dan takut salah gerak. Melalui pembelajaran seni tari, tim Unesa ingin mematahkan batas itu.
Penelitian yang dimulai sejak Agustus 2025 ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang dipadukan dengan konsep kreatif koreografi Alma Hawkins. Prosesnya bukan hanya akademis, melainkan juga sangat humanis: para peneliti berinteraksi langsung dengan siswa, berbincang, menyentuh tangan mereka untuk memperkenalkan bentuk gerak, bahkan mendongeng untuk menggambarkan alur tari.
“Anak-anak netra tidak bisa membayangkan gerakan hanya lewat kata. Maka kami ajak mereka merasakan gerak menyentuh, melompat, jinjit, hingga mecut, sambil mengenal irama gamelan,” jelas Dr. Arif Hidajad, anggota tim peneliti yang juga berperan sebagai pendongeng dalam sesi pelatihan.
Menari dengan Imajinasi, Mengenal Dunia Lewat Gerak
Gerakan tari yang dikembangkan tidak sembarangan. Tim Unesa memilih tema “Tari Jaranan”, yang dekat dengan keseharian dan mudah divisualisasikan melalui suara dan bentuk benda. Pendekatan ini membantu siswa tunanetra menghubungkan imajinasi dengan tubuh mereka sendiri.
Sri Mulyani, pimpinan Sanggar Tari Mulyajaya Surabaya yang juga terlibat dalam riset ini, menuturkan bahwa mengajarkan tari untuk anak disabilitas memang menantang. “Banyak materi tari anak yang terlalu sulit bagi mereka. Karena itu, kami menciptakan koreografi yang sederhana tapi bermakna agar anak-anak bisa menikmatinya tanpa merasa terbebani,” ujarnya.
Kepala SLB Negeri Jombang, Deny Setiyawati, S.Pd, memberikan dukungan penuh terhadap penelitian ini. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya mengajarkan tari, tapi juga membuka ruang inklusif bagi anak-anak disabilitas untuk belajar setara.
Menemukan Gerak, Menemukan Diri
Dari hasil observasi awal, tim menemukan bahwa anak tunanetra membutuhkan kombinasi antara panduan verbal dan sistem “sentuh” untuk memahami bentuk gerak. Dengan metode itu, anak-anak mulai mampu meniru gerakan seperti loncat, jinjit, dan mengayun—gerak sederhana yang kemudian berkembang menjadi rangkaian koreografi yang utuh.
“Gerakan kecil itu sesungguhnya langkah besar bagi mereka. Setiap gerak adalah bentuk keberanian untuk mengenal diri sendiri,” tutur Dr. Setyo Yanuartuti penuh haru.
Kegiatan yang masih akan terus berlanjut ini diharapkan menjadi pondasi baru bagi pengembangan pembelajaran seni bagi anak disabilitas di Indonesia. Dukungan juga datang dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPM) Unesa serta Pusat Unggulan Iptek Seni Unesa, yang melihat riset ini sebagai langkah penting dalam membangun kesetaraan melalui seni.
“Belajar melalui seni bukan sekadar mengenal gerak, tapi belajar memahami diri dan dunia,” pungkas Setyo.
Di ruang sederhana SLB Negeri Jombang, anak-anak yang tak dapat melihat warna dunia kini belajar menciptakan warna mereka sendiri melalui gerak, ritme, dan keyakinan bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, punya makna.(san)
What's Your Reaction?


