DPRD Pacitan Soroti Anak Kian Mudah Berkata Kasar, Pengawasan Orang Tua Dinilai Harus Diperkuat

Perkembangan teknologi sekarang luar biasa. Anak kecil sudah memegang handphone dan gadget. Di situlah kadang muncul hal-hal yang mungkin di luar harapan kita. Tidak ada sekolah maupun orang tua yang ingin anaknya seperti itu," ujar Rudi Handoko, Kamis (25/6/2026).

25 Jun 2026 - 16:05
DPRD Pacitan Soroti Anak Kian Mudah Berkata Kasar, Pengawasan Orang Tua Dinilai Harus Diperkuat
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pacitan, Rudi Handoko, menilai pengawasan orang tua terhadap penggunaan medsos perlu diperkuat untuk menekan kenakalan anak. (Foto: Feri/Afederasi)

Pacitan, (afederasi.com) - Maraknya anak-anak yang mulai berani berkata kasar hingga menunjukkan perilaku menyimpang menjadi perhatian DPRD Kabupaten Pacitan. 

Perkembangan teknologi yang membuat anak semakin mudah mengakses media sosial dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi melalui pengawasan orang tua maupun penguatan pendidikan karakter di sekolah.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pacitan, Rudi Handoko, mengatakan tidak ada orang tua maupun sekolah yang menginginkan anak tumbuh dengan perilaku negatif. 

Namun, kemajuan teknologi membuat anak-anak kini semakin mudah terpapar berbagai konten tanpa pengawasan yang memadai.

"Perkembangan teknologi sekarang luar biasa. Anak kecil sudah memegang handphone dan gadget. Di situlah kadang muncul hal-hal yang mungkin di luar harapan kita. Tidak ada sekolah maupun orang tua yang ingin anaknya seperti itu," ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Menurut dia, peran keluarga menjadi benteng pertama dalam membentuk karakter anak. Karena itu, pemberian gawai kepada anak harus diimbangi dengan pendampingan serta pengawasan yang lebih intensif dari orang tua.

"Kalau anak sudah dibelikan handphone, pengawasannya juga harus diperkuat. Jangan sampai anak bebas mengakses apa saja tanpa ada kontrol dari keluarga," tambahnya.

Selain pengawasan di lingkungan keluarga, Komisi II DPRD juga mendorong penguatan pendidikan karakter di sekolah. 

Salah satu langkah yang dilakukan ialah berkoordinasi dengan Kementerian Agama untuk memetakan sekolah yang masih kekurangan guru pendidikan agama.

Menurut Rudi, penguatan pendidikan agama menjadi bagian dari upaya membangun karakter peserta didik sejak dini.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Agama. Kami ingin mengetahui sekolah mana saja yang masih kekurangan guru agama agar bisa dicarikan solusi bersama," katanya.

Ia menilai sejumlah sekolah telah mulai melakukan berbagai inovasi untuk membentuk karakter siswa, seperti pembelajaran mengaji, doa bersama sebelum belajar, hingga kegiatan keagamaan lainnya. 

Upaya-upaya tersebut, menurutnya, perlu mendapat dukungan agar dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Komisi II DPRD, lanjut Rudi, juga terus mengevaluasi berbagai langkah yang dilakukan sekolah dalam menekan kenakalan anak maupun kebiasaan berkata kasar di lingkungan pendidikan.

"Kami pernah menanyakan langsung kepada sekolah, inovasi apa yang dilakukan untuk menekan kenakalan anak dan kebiasaan berkata kasar. Ternyata ada sekolah yang memperkuat pembelajaran mengaji dan doa bersama. Hal-hal seperti itu kami dukung," ungkapnya.

Di sisi lain, Rudi menilai keberhasilan pembinaan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, diperlukan kesamaan pemahaman antara sekolah, orang tua, dan pemerintah agar proses pendidikan berjalan searah.

Ia mengingatkan agar orang tua tidak serta-merta menyalahkan guru ketika anak mendapat teguran selama masih dalam batas pembinaan yang wajar.

"Jangan sampai anak salah lalu diingatkan guru, tetapi orang tuanya justru tidak terima. Kalau seperti itu, proses pendidikan akan sulit berjalan karena pola pikirnya tidak sejalan," katanya.

Karena itu, DPRD meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan memperkuat kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan peserta didik melalui konsep pembinaan yang jelas. 

Dengan demikian, pendidikan karakter di sekolah diharapkan dapat berjalan seiring dengan pembinaan di lingkungan keluarga.

"Harapan kami semua memiliki tujuan yang sama, yaitu mendidik anak menjadi pribadi yang lebih baik sesuai kurikulum dan nilai-nilai karakter yang diajarkan di sekolah," pungkasnya. (fer)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow