Wayang Topeng Jatiduwur, Warisan Panji yang Mencari Nafas Baru di Kampung Budaya
Jombang, (afederasi.com) - Di sudut sunyi Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, warisan kuno bernama Wayang Topeng masih menari dalam diam. Menjadi pusaka budaya sejak masa Majapahit, Wayang Topeng Jatiduwur kini perlahan menggaet kembali perhatian publik, berkat dukungan para budayawan, akademisi, dan pemerhati sejarah.
Dalam forum santai bertajuk Jagongan Budaya yang digelar di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo pada Minggu, 20 Juli 2025, budayawan Jombang Nasrul Illah, atau akrab disapa Cak Nas, melontarkan harapan besar agar Desa Jatiduwur dikenal sebagai Kampung Panji. Pasalnya, desa ini merupakan tanah kelahiran kisah Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji yang dihidupkan melalui Wayang Topeng.
Sejarah mencatat, Wayang Topeng Jatiduwur bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan fragmen hidup dari masa keemasan Majapahit. Ki Purwo, maestro pertama yang membuat topeng-topeng sakral itu, meninggalkan kisah yang tak hanya dibaca tapi dipentaskan. Kini, Wayang Topeng menjadi simbol perlawanan waktu—di tengah gempuran budaya digital yang kian masif.
Dalam kesempatan itu, Cak Nas juga menekankan pentingnya penghijauan. “Pohon adalah ruh dari Wayang Topeng. Tanpa bahan baku alami, seni ini kehilangan nyawa,” ucapnya. Ia mendorong warga dan pelajar untuk menanam pohon bahan topeng, agar regenerasi budaya tidak terputus. Di balik keheningan sanggar, Wayang Topeng terus tumbuh sebagai alat belajar, bukan hanya tontonan.
Akademisi Universitas Negeri Surabaya, Dr. Setyo Yanuartuti, turut menyatakan komitmen untuk menjadikan Wayang Topeng sebagai media edukatif. Ia bahkan memperkenalkan batik bermotif Panji rancangan mahasiswa, dan menyatakan siap mengirimkan mahasiswa Unesa menjalani KKN di Sanggar Wayang Topeng Jatiduwur sebagai bentuk nyata transfer ilmu lintas generasi.
Tak hanya itu, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang melalui Arif Yulianto menggarisbawahi bahwa Wayang Topeng merupakan media luhur yang membawa pesan moral dan kemandirian bangsa. Ia menegaskan perlunya penyusunan narasi sejarah yang jelas mengenai asal-usul dan sosok Ki Purwo, agar Wayang Topeng tak menjadi legenda tanpa akar.
“Bukan hanya kesenian, Wayang Topeng adalah pancaran nilai-nilai adiluhung,” kata Arif. Ia mendorong agar anak-anak muda memahami filosofi dan nilai budi pekerti yang terkandung dalam setiap gerak dan simbol pada Wayang Topeng Jatiduwur.
Kini, harapan tumbuh. Dengan sinergi antara budayawan, akademisi, dan komunitas lokal, Wayang Topeng Jatiduwur perlahan kembali mendapat panggungnya. Tidak sekadar tampil di pentas budaya, tapi hadir sebagai identitas yang melekat erat dalam keseharian warga Jombang—sebuah ingatan kolektif tentang kejayaan seni Panji yang tak lekang oleh zaman. (san)
What's Your Reaction?



