Geliat Cafe Nostalgia Kopi Saring di Tengah Era Modern

01 Oct 2025 - 10:38
Geliat  Cafe Nostalgia Kopi Saring di Tengah Era Modern
Suasana warung Kopi Toko Kerabat di Desa Cukir, Kabupaten Jombang, Selasa (30/09/2025). (foto:Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Di tengah maraknya kedai kopi modern yang berlomba menawarkan konsep kekinian, sebuah tempat bernama Toko Kerabat justru hadir dengan pendekatan berbeda. Berlokasi di sebelah timur Pabrik Gula Tjoekir, Desa Cukir, Kabupaten Jombang, cafe bernuansa jadul ini menghadirkan pengalaman menyeruput kopi saring tradisional yang membangkitkan kenangan masa lalu.

Toko Kerabat beroperasi dua kali dalam sehari, yakni pagi pukul 05.30–11.00 WIB dan sore hingga malam pukul 16.00–24.00 WIB. Dengan harga kopi yang sangat ramah di kantong—mulai dari Rp5.000 hingga Rp13.000—tempat ini menjadi magnet bagi beragam kalangan.

Mulai dari peziarah makam Gus Dur, santri Tebuireng, hingga warga lokal, menjadikan cafe ini titik temu dengan suasana khas pedesaan yang hangat dan bersahaja.

Pemilik Toko Kerabat, Muhammad Rafli Rifki Reza, mengatakan bahwa nama “Toko” dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap kultur lama, ketika orang menyebut tempat ngopi dengan istilah "toko", bukan “cafe” atau “coffee shop”.

“Tahun 90-an itu belum ada istilah coffee shop. Tempat ngopi ya di toko kecil milik warga Tionghoa. Sederhana tapi akrab, dan kopinya punya cita rasa yang khas,” ujar Rafli saat ditemui pada Selasa malam (30/9/2025).

Konsep kesederhanaan ini terlihat dari metode penyajian kopi yang tetap menggunakan saringan manual, tanpa alat modern. Menu andalan yang menjadi favorit adalah Es Kopi Susu Saring dan Kopi Pagi (Kopag). Untuk pelanggan pagi hari, bubur ayam kuah gurih juga jadi hidangan yang tidak kalah populer.

Toko Kerabat tidak berambisi menjadi cafe viral. Sebaliknya, tempat ini justru hadir sebagai bentuk perlawanan halus terhadap arus modernitas, dengan menjaga cita rasa otentik dan atmosfer yang penuh nostalgia.

“Toko Kerabat adalah ruang yang menjaga warisan rasa dan memori. Kami ingin orang kembali merasakan kehangatan ngopi seperti dulu—tanpa gimmick, tanpa estetika berlebih,” jelas Rafli.

Nuansa religius khas Cukir, yang dekat dengan lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, membuat cafe ini menjadi tempat istirahat dan diskusi yang cocok untuk semua usia.

Seorang pelanggan setia, Hatta, mengaku rutin mengunjungi Toko Kerabat setiap pagi setelah sholat Subuh. Di malam hari, ia kembali bersama teman-temannya untuk berdiskusi ringan.

“Habis Subuhan saya mampir ke sini. Buburnya sedap, kopinya nendang. Tempatnya nyaman, rasanya beda dari cafe-cafe lain. Seperti rumah kedua,” ujarnya.

Dengan atmosfer yang hangat, kopi saring autentik, dan konsep jadul yang membumi, Toko Kerabat di Cukir Jombang membuktikan bahwa ngopi bukan sekadar gaya hidup, tapi bagian dari budaya lokal yang sarat makna. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow