Sudah Ketikung Cak Imin, AHY Kini Kena Ghosting Anies Baswedan yang Hilang Tanpa Pamitan
Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar atau pamitan setelah mengkonfirmasi kebenaran kerja sama politik antara Partai NasDem dan PKB.
Jakarta, (afederasi.com) - Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar atau pamitan setelah mengkonfirmasi kebenaran kerja sama politik antara Partai NasDem dan PKB. Dalam kerja sama tersebut, Anies diangkat sebagai calon presiden (capres) dan Muhaimin Iskandar, yang akrab dipanggil Cak Imin, sebagai calon wakil presiden (cawapres).
Tak Ada Pamitan, Anies Kena Ghosting dari Demokrat
Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, mengungkapkan bahwa tidak ada pamitan atau konfirmasi resmi dari Anies Baswedan. Anies tiba-tiba menghilang begitu saja, fenomena yang dikenal sebagai ghosting dalam dunia modern. Herzaky menjelaskan bahwa mereka mencoba menghubungi Anies untuk konfirmasi dan menjelaskan situasi, namun tidak ada respons yang diterima.
Kebenaran Persetujuan Kerja Sama Terungkap
Partai Demokrat akhirnya mendapatkan konfirmasi resmi mengenai persetujuan Anies terkait kerja sama politik dengan NasDem dan PKB. Langkah politik ini didasarkan pada persetujuan dari Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Namun, Partai Demokrat merasa dikhianati oleh keputusan yang diambil oleh Anies dan Paloh tanpa melibatkan mereka.
Koalisi Terbalik: AHY Kena Tikung oleh Cak Imin
Koalisi politik antara Partai Demokrat dan PKS, yang dipimpin oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengalami tikungan tak terduga. Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengambil keputusan untuk menjadi calon wakil presiden Anies Baswedan, menggantikan AHY. Keputusan ini mengagetkan semua pihak, termasuk Partai Demokrat dan PKS, dan diambil tanpa sepengetahuan mereka.
Perubahan Keputusan Mendadak
Sebelumnya, Anies Baswedan telah memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon wakil presiden. Namun, secara tak terduga, Anies kemudian menandatangani kesepakatan politik dengan NasDem dan PKB, yang mengusungnya sebagai calon presiden dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai calon wakil presiden. Perubahan ini menyebabkan kebingungan di kalangan partai-partai yang terlibat dan menimbulkan kontroversi.
Deklarasi dan Pengkhianatan dalam Koalisi
Waktu deklarasi pasangan Anies-Muhaimin semakin mendekat, dan dalam kondisi ini, perubahan fundamental terjadi. Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, secara sepihak menetapkan Cak Imin sebagai calon wakil presiden, tanpa sepengetahuan Partai Demokrat dan PKS. Hal ini dipandang sebagai pengkhianatan terhadap semangat perubahan dan kesepakatan yang telah diambil oleh koalisi. Anies Baswedan sendiri dipanggil oleh Paloh untuk menerima keputusan tersebut.
Anies Resmi Teken Kerja Sama NasDem-PKB
Akhirnya, Anies Baswedan secara resmi menandatangani perjanjian kerja sama politik antara Partai NasDem dan PKB. Tidak hanya sebagai kerjasama antarpartai, Anies juga menyetujui pasangan Anies-Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai capres dan cawapres. Partai Demokrat mengonfirmasi hal ini melalui keterangan tertulis dari Sekretaris Jenderal Teuku Riefky Harsya, anggota Tim 8 Koalisi Perubahan untuk Persatuan.
Pergeseran Aliansi dan Pengkhianatan
Peristiwa pergeseran dalam aliansi politik ini mengungkapkan kompleksitas dan dinamika dalam dunia politik. Keputusan mendadak Anies Baswedan untuk menggandeng NasDem dan PKB, serta menggantikan AHY dengan Cak Imin, mengejutkan dan dianggap sebagai pengkhianatan oleh Partai Demokrat. Hal ini menciptakan ketidakpastian dan kontroversi menjelang perhelatan pemilihan presiden yang semakin dekat.(mg-2/jae)
What's Your Reaction?



