Risiko Kematian Cacar Monyet di Indonesia: Penjelasan dari Pakar Mikrobiologi

Kasus cacar monyet, atau monkeypox, semakin mendapat perhatian masyarakat di Indonesia.

02 Nov 2023 - 12:46
Risiko Kematian Cacar Monyet di Indonesia: Penjelasan dari Pakar Mikrobiologi
Ilustrasi Penyakit Cacar Monyet (Monkey pox). (unsplash/rodney james)

Tangerang, (afederasi.com) - Kasus cacar monyet, atau monkeypox, semakin mendapat perhatian masyarakat di Indonesia. Apakah penyakit ini berpotensi membahayakan dan mematikan? Pakar Mikrobiologi Klinik dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Amin Soebandrio, memberikan pemahaman mengenai risiko kematian akibat cacar monyet yang telah terkonfirmasi sebanyak 29 kasus di Indonesia.

Menurut Prof. Amin, risiko kematian akibat cacar monyet cenderung rendah. Penyakit ini memiliki potensi untuk sembuh dengan sendirinya, asalkan tidak menimbulkan komplikasi yang serius. "Selama tidak ada komplikasi, angka kematian cenderung rendah," ungkap Prof. Amin dalam wawancara seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah ketika virus cacar monyet menyebar ke organ vital seperti paru-paru dan jantung. Namun, apabila tidak terjadi komplikasi, sistem kekebalan tubuh menjadi faktor penentu pemulihan. Prof. Amin menekankan perlunya menjaga agar tidak terjadi infeksi sekunder yang dapat memengaruhi organ lain karena infeksi virus seperti cacar monyet dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Cacar monyet, atau monkeypox, adalah penyakit virus zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini memiliki kemampuan untuk sembuh dengan sendirinya. Penyebab dari monkeypox adalah virus monkeypox, yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus dan masuk dalam keluarga Poxviridae. Virus ini biasanya ditemukan di wilayah Afrika Tengah dan Afrika Barat sebagai negara endemis.

Salah satu cara untuk membedakan cacar monyet dengan cacar air yang masih menjadi perhatian saat ini adalah dengan melihat bentuk lesi yang sering kali berisi nanah. Prof. Amin menjelaskan bahwa gejala cacar monyet dapat dibedakan dari yang lain karena biasanya disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening, terutama di ketiak dan selangkangan. Hal ini tidak terjadi pada cacar biasa.

Namun, Prof. Amin mengingatkan bahwa pembesaran kelenjar getah bening ini mungkin tidak dapat terlihat dalam satu hari setelah infeksi. Biasanya, perubahan ini baru bisa diamati setelah beberapa hari, sehingga cacar monyet memiliki masa inkubasi yang cukup lama, yaitu sekitar 2 hingga 4 minggu sebelum dapat sembuh dengan sendirinya.

Hingga saat ini, Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, telah mengonfirmasi adanya 29 kasus positif cacar monyet di Indonesia. Selain itu, terdapat 10 kasus yang masih menjadi kasus suspek atau dalam tahap penyelidikan.

Jumlah kasus positif ini mengalami peningkatan dari sebelumnya, dimana data pada 30 Oktober mencatat adanya 24 kasus positif. Saat ini, terjadi penambahan 5 kasus sehingga totalnya menjadi 29 kasus positif.

Meskipun angka kasus terus meningkat, Kementerian Kesehatan tidak mengklasifikasikannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). Dr. Siti Nadia menyampaikan bahwa pihaknya terus mengawasi perkembangan kasus ini dan memberikan informasi yang diperlukan kepada masyarakat untuk mengurangi penyebaran penyakit cacar monyet.(mg-2/mhd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow