Pasien DBD di RSUD Jombang Turun Drastis
Jombang, (afederasi.com) – Kabar menggembirakan datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Laporan terkini menunjukkan penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jombang yang sangat signifikan sepanjang awal 2026 ini dibandingkan periode sama tahun-tahun sebelumnya.
Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, M.KP, mengonfirmasi bahwa tren positif dalam penanggulangan penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini terlihat jelas dari data rekam medis rumah sakit.
"Alhamdulillah, kita melihat tren penurunan yang cukup berarti. Namun, ini bukan saatnya lengah. Siklus DBD bisa berubah, dan kewaspadaan harus tetap tinggi, terutama dengan pola cuaca yang tidak menentu," tegas dr. Pudji saat dikonfirmasi, Senin (02/02/2026).
Penurunan ini bukan hanya angka statistik, tetapi terlihat langsung di lapangan. dr. Pudji menyebut, kasus DBD di RSUD Jombang saat ini tidak lagi separah dua atau tiga tahun silam.
"Dibandingkan tahun sebelumnya, pasien demam berdarah di RSUD Jombang cenderung menurun. Dalam sebulan selalu ada yang dirawat, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak dan tingkat kegawatannya pun tidak mengkhawatirkan," terangnya.
Lebih detail, dr. Pudji mengungkapkan kondisi terkini. "Hari ini yang dirawat di RSUD Jombang tidak banyak, ada tiga anak dan kondisinya sudah membaik," ungkapnya. Sebagai rumah sakit rujukan tingkat dua untuk Faskes BPJS Kabupaten Jombang, pasien DBD yang ditangani pun berasal dari rujukan puskesmas dan rumah sakit tipe C/D di wilayah tersebut.
dr. Pudji memaparkan beberapa faktor kunci yang diduga kuat menjadi penyebab penurunan angka DBD di Jombang:
Efektivitas Penanganan di Faskes Primer: Kewaspadaan dan kemampuan penanganan dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Faskes Tingkat 1) meningkat. "Teman-teman di faskes tingkat 1 sudah terbiasa menangani DBD, sehingga kasus bisa ditangani dengan baik sejak awal," jelasnya.
Siklus Vektor dan Virus: Perkembangan nyamuk Aedes aegypti, meski subur di cuaca hujan-panas, tidak serta-merta menyebabkan ledakan kasus jika jumlah virus yang beredar di masyarakat juga rendah.
Kesadaran dan Gerakan 3M Plus: Peningkatan kesadaran masyarakat serta gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang intensif oleh Dinkes Jombang dan kader jumantik turut berperan besar.
Meski tren sedang positif, otoritas kesehatan mengingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya hilang. Puncak musim DBD di Indonesia biasanya terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba).
dr. Pudji mengimbau masyarakat untuk tidak berpuas diri. "Penurunan ini adalah hasil kerja bersama. Mari kita pertahankan dengan terus menjaga kebersihan lingkungan. Periksa bak mandi, tampungan air, pot bunga, dan barang bekas yang bisa jadi sarang nyamuk," pesannya.
Ia juga mengingatkan gejala kunci DBD seperti demam tinggi, nyeri otot, dan bintik merah. "Jika ada anggota keluarga dengan gejala demam tinggi tanpa sebab jelas, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat," pungkas dr. Pudji.
Kabar terbaiknya, berkat penanganan yang cepat dan tepat, dr. Pudji menyatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus meninggal dunia akibat DBD di wilayahnya sepanjang periode ini.(san)
What's Your Reaction?



