Respon Pengunjung Starbucks Terkait Seruan Boikot terhadap Brand Akibat Dukungan Terhadap Israel-Palestina

Seruan boikot produk brand maupun restoran yang mendukung agresi Israel ke Palestina menuai banyak pro dan kontra.

31 Oct 2023 - 08:53
Respon Pengunjung Starbucks Terkait Seruan Boikot terhadap Brand Akibat Dukungan Terhadap Israel-Palestina
Membuktikan Kekuatan Ancaman Boikot Starbucks Usai Dukungan ke Israel. (Suara.com/Fajar Ramadhan)

Jakarta, (afederasi.com) - Seruan boikot produk brand maupun restoran yang mendukung agresi Israel ke Palestina menuai banyak pro dan kontra. Pasalnya, hal ini dinilai akan berdampak langsung kepada pekerja yang bekerja di brand maupun restoran tersebut.

Boikot pun mencakup gerai kopi Starbucks, yang berasal dari Amerika yang mendukung Israel. Hal ini membuat para konten kreator di Indonesia maupun dunia mengajak untuk memboikot gerai kopi tersebut.

Meskipun ada seruan boikot, tim Suara.com mencoba mengunjungi gerai kopi Starbucks untuk mengetahui alasan para pengunjung tetap membeli di tengah seruan tersebut. Berikut beberapa jawaban dari para pengunjung yang membeli di tengah seruan boikot.

1. "Enggak ngaruh, justru kasian yang kerja di sini" - Mia Dwi

Mia mengatakan bahwa seruan boikot tidak memiliki pengaruh besar menurutnya. Justru, menurutnya, seruan ini akan berdampak pada para pekerja yang merupakan orang Indonesia. Oleh sebab itu, menurutnya untuk mendukung Palestina, ada cara lain yang lebih efektif.

"Kalau menurut aku sih enggak ngaruh, karena kan yang punya kerja notabenenya orang sini (Indonesia) juga. Justru diboikot bangkrut, nanti mereka gimana, apalagi cari kerja susah. Kalau dukung bisa cara yang lain sih, kayak donasi gitu ke mana yang terpercaya buat bantu warga di Palestina, itu akan lebih berpengaruh sih," ucap Mia saat diwawancarai, Senin (30/10/2023).

2. "Saya ke sini buat kerja sih" - Ryan Fendi.

Ryan menuturkan, alasan dirinya tetap membeli Starbucks adalah karena ia perlu tempat yang nyaman untuk bekerja, dan gerai Starbucks memenuhi kriteria tersebut. Sementara terkait boikot, menurutnya dampaknya justru lebih besar terhadap pekerja di Indonesia daripada terhadap Israel.

"Kalau saya ke sini karena nyaman aja sih, sepi enggak berisik dibandingkan yang lain jadi tetap ke sini kalau kerja. Kalau yang boikot itu, menurut saya lebih dampaknya ke pekerja di Indonesia enggak sih, soalnya kalau ke Israelnya justru enggak terlalu," kata Ryan Fendi.

3. "Aku enggak ngikutin kasusnya" - AT.

Sementara itu, AT (nama inisial) mengaku bahwa ia tidak begitu mengetahui masalah boikot dan tidak terlalu mengikuti perkembangan kasus ini. Ia hanya tahu bahwa Palestina sedang mengalami serangan, tetapi tidak mengetahui detail terkait boikot.

"Aku enggak ngikutin kasusnya, enggak tahu kalau boikot gitu. Cuma tahu Palestina dibom gitu aja sih," kata AT.

4. "Lebih bantunya ke donasi, sosmed, atau lewat doa aja" - Daffa.

Daffa menjelaskan bahwa menurutnya, ada berbagai cara untuk membantu Palestina, dan dia memilih untuk berkontribusi melalui donasi, media sosial, atau doa. Menurutnya, boikot justru dapat merugikan orang Indonesia yang bekerja di gerai kopi tersebut.

"Aku lebih bantunya ke donasi aja sih, kan banyak tuh organisasi yang membuka donasi untuk warga Palestina, terus ikut berbicara di media sosial, dan juga lewat doa. Kalau boikot, menurut Daffa, justru bisa merugikan orang Indonesia yang bekerja di gerai kopi tersebut," jelasnya seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

Itu dia beberapa pernyataan para pengunjung mengapa tetap membeli di tengah seruan boikot. Meskipun ada seruan boikot, gerai Starbucks masih banyak pengunjung yang datang. Bahkan, dalam gerai tersebut, pembeli tampak ramai hingga hampir semua kursi penuh.(mg-2/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow