Petani Muda Gresik Sukses Panen Semangka Inul Raup Cuan Puluhan Juta
Seperti yang dilakukan Maulana Hasbi dan Riyan asal Desa Cangaan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.
Gresik, (afederasi.com) – Musim kemarau panjang dampak dari El Nino selama beberapa bulan terakhir ternyata membawa berkah tersendiri bagi petani semangka. Budidaya tanaman rambat ini, memang sangat cocok ditanam di musim kemarau dan perawatannya pun tergolong mudah.
Seperti yang dilakukan Maulana Hasbi dan Riyan asal Desa Cangaan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Berkat budidaya tanaman buah semangka jenis inul di lahan 3.000 meter persegi, petani muda dua bersaudara tersebut memetik hasil panen dan mampu meraup cuan mencapai puluhan juta rupiah.
Awalnya dua bersaudara ini, semula memulai dari menanam cabai. Namun karena hasilnya tidak memuaskan, mereka pun mencoba berganti menanam semangka jenis Inul. Dalam budidaya ini mereka memilih tidak mengunakan pupuk berbahan kimia namun mengunakan pupuk organik. Hasilnya, keduanya meraup untung dari hasil panen yang lebih besar.
“Sebelumnya saya menanam cabai, tapi waktu itu hasilnya kurang memuaskan, akhirnya saya mencoba menanam semangka jenis inul ini dan tanpa pupuk kimia sedikitpun,” kata Maulana Hasbi.
Hasbi kemudian bersama adiknya yakni Riyan mengubah sawahnya menjadi lahan budidaya semangka. Semula warga setempat meragukan upaya keduanya karena selama ini belum ada yang berhasil panen semangka di desa tersebut. Namun usaha keduanya selama dua bulan berbuah manis.
“Awalnya banyak yang ragu, warga sekitar sini tidak ada yang menanam semangka. Dulu sempat ada tapi gagal, tetapi setelah dua bulan dan masuk masa panen akhirnya tetangga-tetangga mulai banyak yang bertanya-tanya metodenya,” terangnya.
Budidaya semangka tanpa pupuk kimia, lanjut Hasbi, memiliki keunggulan rasa yang sangat manis dan memiliki kulit buah yang tipis dan jika dimakan daging buah terasa lebih renyah dan legit rasanya. Buah semangka pun lebih tahan terhadap cuaca panas ekstrim saat ini, dan lebih kebal terhadap serangan hama.
“Tinggal ngontrol penyiramannya, biasanya kita lakukan malam hari agar kulit semangka tidak pecah karena sengatan matahari di musim panas seperti sekarang ini,” tuturnya.
Masa panen yang cepat, yaitu hanya 2 bulan dan kepastian pasar membuat hasil budidaya semangka ini membuat Hasbi dan adiknya terasa lebih menguntungkan. Jika dihitung dengan luas lahan 3.000 meter persegi, mereka bisa menghasilkan sekitar 3 ton.
“Satu buah semangka beratnya mulai 2-4 kilogram, tapi ada juga yang berat 7 sampai 9 kilogram, dengan harga Rp 6 ribu perkilo. Biasanya sudah ada pembeli yang datang ke rumah, ada juga yang kita jual secara online dan kita antarkan,” terangnya.
Hal senada disampaikan Riyan mengaku baru pertama kali ini memanen semangka dan mendapat keuntungan lebih banyak saat musim kemarau panjang dibandingkan tanaman cabai.
“Baru mulai bulan Juli kemarin, ini panen perdana, dan hasilnya sangat jauh dari modal tanam,” jelasnya.
Menurut Riyan, jenis semangka Inul banyak diburu dan digemari warga karena buahnya yang segar dan manis jika dibandingkan dengan semangka biasa. Semangka inul memiliki daging berwarna kuning sangat manis dan kulit buah tipis serta jika dimakan daging buah terasa lebih renyah dan rasanya legit.
“ Yang warna daging buahnya oranye pasti rasanya manis legit, beda dengan semangka jenis lainnya. Kalau ada yang agak kuning itu biasanya afkir karena kurang bagus,” pungkasnya. (frd)
What's Your Reaction?



