Peran Tersembunyi Jokowi di Langkah Gibran: Politik Halus Menuju Pemilihan Umum 2024

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menyoroti peran kunci yang dimainkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam setiap langkah dan sikap yang diambil oleh Gibran Rakabuming Raka.

11 Oct 2023 - 13:39
Peran Tersembunyi Jokowi di Langkah Gibran: Politik Halus Menuju Pemilihan Umum 2024
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka memberi pernyataan saat berkunjung ke Kantor DPP PDIP di Jakarta Pusat, Senin (22/5/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Jakarta, (afederasi.com) - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menyoroti peran kunci yang dimainkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam setiap langkah dan sikap yang diambil oleh Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Pangi, Jokowi akan senantiasa memengaruhi keputusan-keputusan Gibran, termasuk dalam situasi ketika Gibran harus mempertimbangkan tawaran Prabowo Subianto untuk menjadi calon wakil presiden.

Pangi meyakini bahwa Gibran tidak akan bergerak sendirian, terutama dalam keputusannya untuk meninggalkan PDI Perjuangan dengan cara yang baik. Di balik semua itu, Jokowi akan menjadi otak di balik layar yang memandu Gibran dalam setiap tindakan politiknya.

"Ya, biasanya otaknya itu Pak Jokowi. Gibran nggak ngerti cara pamit atau cara kasar, cara halus, cara Jawa kan Jokowi yang tahu, kan Jokowi suhunya politik Jawa kan," ungkap Pangi, seperti yang dilansir dari Suara.com media partner afederasi.com.

Selanjutnya, melihat sifat politik khas Jokowi yang cenderung halus dan taktis, Pangi memprediksi bahwa jika Gibran memutuskan untuk berpamitan dari PDIP, ia akan melakukannya dengan cara yang sopan dan halus. Namun, peran Jokowi akan memastikan bahwa langkah tersebut tetap efektif dalam berdampak pada PDIP.

"Ya, kalau politik Jawa kan kan nggak pernah ada yang kasar kan, halus kan tapi nusuk kan kalau politik Jawa," tambah Pangi.

Pangi mengilustrasikan bagaimana Jokowi telah memainkan permainan yang halus namun tetap memberikan dampak kepada PDIP. Terutama, ketika PDIP meremehkan Jokowi dan menganggapnya sebagai petugas partai.

"Saat Pak Jokowi diperlakukan demikian oleh PDIP, balasannya ngeri kan. Ketika Pak Jokowi dikatakan petugas partai," ujar Pangi.

Pangi menganggap bahwa sikap Jokowi yang tampaknya mendukung Prabowo saat ini tidak terlepas dari perlakuan PDIP terhadapnya, terutama ketika PDIP mendeklarasikan Ganjar sebagai calon presiden, tanpa sepenuhnya melibatkan Jokowi.

"Terus sekarang dia punya jagoan Pak Prabowo seolah-olah begitu," tambah Pangi.

Pangi juga mencatat bahwa PDIP yang mengusung Ganjar hanya mendapatkan dukungan dari satu partai di parlemen, yakni PPP. Menurut Pangi, hal ini pasti menjadi perhatian tersendiri bagi PDIP.

"Itu kan kalau bukan karena tangan dingin Pak Jokowi, siapa yang ngatur," tegas Pangi.

Namun, Jamiluddin Ritonga, seorang pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, mengungkapkan keraguan terkait keberanian Gibran Rakabuming Raka untuk berpamitan dari PDIP jika ia menerima tawaran menjadi calon wakil presiden Prabowo Subianto.

Menurut Jamiluddin, Gibran akan menghadapi dilema tersendiri, terutama jika PDIP juga berniat mengusungnya sebagai cawapres Ganjar Pranowo. Semuanya masih tergantung pada keputusan Mahkamah Konstitusi mengenai batas usia calon presiden dan wakil presiden.

Jamiluddin menilai bahwa peluang terbesar bagi Gibran untuk menerima tawaran Prabowo akan muncul jika MK mengabulkan gugatan yang mengurangi batasan usia capres dan cawapres dari 40 tahun menjadi 35 tahun.

Namun, jika PDIP juga ingin mengusung Gibran sebagai cawapres, maka akan menjadi permasalahan serius bagi Gibran. Keputusan akhir akan bergantung pada dinamika politik yang berkembang dan bagaimana Gibran memutuskan langkahnya di tengah tawaran yang berdatangan. (mg-3/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow