Panen Melimpah, Harga Anjlok: Kisah Pilu Petani Bawang Merah Jombang

29 Jan 2026 - 12:41
Panen Melimpah, Harga Anjlok: Kisah Pilu Petani Bawang Merah Jombang
Aan Purnomo petani bawang merah saat panen di areal persawahan di Desa Purisemanding Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang Jawa Timur, Kamis (29/01/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) — Sejumlah petani bawang merah di Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sedang menikmati masa panen yang melimpah. Namun, di balik hamparan tanaman yang menguning, tersimpan kecemasan akibat harga jual yang merosot tajam, serangan hama ganas, dan ancaman cuaca ekstrem.

Aan Purnomo, salah satu petani, mengonfirmasi bahwa hasil panen bawang merah berusia 58 hari di lahannya tergolong bagus. Meski demikian, dua musuh utama terus menghantui: curah hujan tinggi yang tak henti dan serangan hama ulat yang merusak tanaman.

"Dengan bibit 1,5 kuintal, biasanya bisa menghasilkan 1,5 ton. Tapi sekarang harga di tingkat petani turun, hanya sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram," keluh Aan saat ditemui di lahannya, Kamis (29/1/2026).

Penurunan harga ini menjadi pukulan berat karena biaya produksi justru membumbung tinggi. Aan membeberkan, harga bibit saja saat ini mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk pengolahan lahan hingga panen bisa menyentuh sekitar Rp 25 juta.

"Dengan harga jual sekarang, keuntungan yang didapat sangat tipis, bahkan cenderung impas," ujarnya dengan nada prihatin. Ia pun berharap ada stabilitas harga yang lebih baik agar jerih payah para petani sebanding dengan pengorbanan dan modal yang dikeluarkan.

Volatilitas Harga: Fluktuasi harga yang drastis menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan. Saat panen raya seperti sekarang, suplai melimpah justru menekan harga hingga ke level yang tidak menguntungkan petani.

Ancaman Iklim dan Hama: Cuaca ekstrem, seperti hujan berkepanjangan, tidak hanya meningkatkan risiko gagal panen tetapi juga memicu berkembangnya hama seperti ulat. Hal ini menambah biaya perawatan dan mengurangi kualitas hasil panen.

Margin Keuntungan yang Tipis: Kombinasi antara biaya produksi tinggi (bibit, pupuk, tenaga) dan harga jual rendah membuat margin keuntungan petani nyaris tidak ada. Situasi ini berpotensi mematikan minat generasi muda untuk melanjutkan usaha tani.

Aan dan petani lainnya berharap adanya intervensi dari pihak terkait, baik pemerintah maupun asosiasi, untuk membantu menstabilkan harga pasaran. Skema bulogasi (pembelian oleh Bulog), penguatan sistem pemasaran langsung, serta bantuan bibit dan pupuk bersubsidi dinilai dapat meringankan beban mereka.

Selain itu, pendampingan terkait pengelolaan hama terpadu dan praktek pertanian adaptif terhadap perubahan iklim juga menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan ketahanan sektor pertanian bawang merah di daerah ini.

Dengan kondisi saat ini, meski panen berhasil dituai, kebahagiaan petani di Jombang masih terasa hambar. Mereka menanti langkah nyata agar keringat di ladang tak lagi berujung pada perhitungan yang impas.(san). 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow