Meski Harga Bawang Turun , Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan

29 Jan 2026 - 12:35
Meski Harga Bawang Turun , Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan
Aan Purnomo saat menujukan hasil panen bawang merah di areal sawahnya di Desa Purisemanding Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang Jawa Timur, Kamis (29/01/2026). (Foto: Santoso /afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Petani bawang merah di Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tengah menikmati hasil panen yang melimpah. Namun, kebahagiaan itu sedikit terkendala oleh harga jual yang merosot, serangan hama, serta cuaca ekstrem yang menghantui sepanjang musim tanam.

Aan Purnomo, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa panen bawang merah usia 58 hari ini cukup bagus. Kendati demikian, ia menghadapi tantangan serius dari curah hujan tinggi yang terus-menerus dan serangan hama ulat di lahan persawahannya.

“Dengan bibit 1,5 kuintal, biasanya bisa menghasilkan 1,5 ton. Tapi sekarang harga di tingkat petani turun, hanya sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per kilogram,” ujar Aan saat ditemui di lahannya, Kamis (29/01/2026).

Ia berharap harga jual bisa lebih stabil, mengingat biaya produksi yang cukup tinggi. Harga bibit saat ini mencapai Rp 45 ribu per kilogram, dengan total biaya pengolahan lahan hingga panen sekitar Rp 25 juta. Menurutnya, dengan harga jual saat ini, keuntungan yang didapat sangat tipis, bahkan cenderung impas.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Plandaan, Yus Ardi Baskoro, mengonfirmasi bahwa luas areal tanam bawang merah di wilayahnya mencapai sekitar 30 hektar. Sentra produksi terbesar berada di Desa Darurejo, dengan sebaran di sejumlah desa lain seperti Tondowulan, Kampung Baru, Purisemanding, dan Klitih.

“Kendala utama tanam di bulan Januari ini adalah cuaca ekstrem. Banyak tanaman terserang jamur karena musim hujan dan juga hama ulat grayak,” jelas Yus.

Untuk mengatasi hal itu, petani disarankan melakukan penyemprotan fungisida dan insektisida secara berkala. Pihaknya juga mendorong pengendalian hama secara alami untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.

“Kami upayakan pengendalian dengan perangkap dan fungisida alami. Idealnya, lahan seluas 0,14 hektar atau 1.400 meter persegi bisa menghasilkan 1,6 hingga 2 ton. Namun jika terserang hama, hasilnya bisa turun drastis menjadi 1–1,5 ton,” terangnya.

Meski menghadapi tantangan, potensi bawang merah di Kecamatan Plandaan dinilai sangat bagus. Kontur tanah liat yang cocok dan sistem irigasi tadah hujan menjadi pendukung utama. Yus juga menyebutkan bahwa minat para petani muda atau milenial untuk terjun ke budidaya bawang merah semakin tinggi.

“Usia tanam bawang merah cukup pendek, sehingga pengendalian harus cepat dan tepat. Alhamdulillah, banyak pemuda yang tertarik karena potensi keuntungannya yang menggiurkan,” pungkasnya.

Dengan produksi yang melimpah, diharapkan harga bawang merah di pasaran dapat stabil sehingga kesejahteraan petani tetap terjaga meski di tengah cuaca ekstrem dan serangan hama. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow