Operasi Patuh Semeru 2024, Mampukah Polda Jatim Tekan Kecelakaan?

14 Jul 2024 - 20:08
Operasi Patuh Semeru 2024, Mampukah Polda Jatim Tekan Kecelakaan?
Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Komarudin dan didampingi Kapolres Tulungagung AKBP Teuku Arsya Khadafi dan Kasatlantas Polres Tulungagung AKP Jodi Indrawan ketika dikonfirmasi awak media di halaman Mapolres Tulungagung, (rizki /afederasi.com)

Tulungagung, (afederasi.com) - Polda Jawa Timur kembali menggelar Operasi Patuh Semeru 2024 dari 15 hingga 28 Juli 2024, dengan sembilan poin utama penindakan.

Operasi ini menargetkan pelanggaran seperti berboncengan lebih dari satu orang, melebihi batas kecepatan, pengendara di bawah umur, pengendara roda dua tanpa helm SNI, pengemudi roda empat tanpa sabuk pengaman, pengendara di bawah pengaruh alkohol, melawan arus, penggunaan knalpot tidak standar, dan menerobos lampu merah.

Namun, efektivitas operasi ini dalam menekan angka kecelakaan patut dipertanyakan. Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Komarudin menyatakan bahwa sosialisasi telah dilakukan sebelum operasi dimulai. Meskipun ada penurunan angka kecelakaan sebesar 13 persen pada semester pertama 2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023, penurunan ini tampaknya tidak signifikan jika melihat jumlah kecelakaan yang masih mencapai 12.000 kejadian.

"Tahapan sosialisasi sudah kami lakukan sebelum Operasi Patuh Semeru," ujar Kombes Pol Komarudin dalam apel di Polres Tulungagung, Minggu (14/7/2024).

Data menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan, angka kecelakaan tetap tinggi. Pada semester pertama tahun 2023, tercatat 15.000 kecelakaan, sementara pada tahun 2024 hanya berkurang menjadi 12.000. Tingkat fatalitas juga menurun dari 2.600 kasus pada semester pertama 2023 menjadi 2.100 kasus pada semester pertama 2024. Meskipun ada penurunan sebesar 18 persen, angka ini masih menunjukkan tingginya risiko di jalan raya.

"Kendaraan roda dua tetap mendominasi kecelakaan, namun angkutan barang juga menjadi perhatian utama dalam operasi ini," lanjutnya.

Sidoarjo dan Bojonegoro menjadi wilayah dengan angka kecelakaan dan fatalitas tertinggi. Tulungagung sendiri menempati peringkat kelima dalam kuantitas kecelakaan dan peringkat 14 dalam fatalitas. Ini menunjukkan bahwa upaya penindakan di beberapa daerah belum memberikan hasil yang optimal.

Kasatlantas Polres Tulungagung, AKP Jodi Indrawan, menyatakan bahwa dari Januari hingga Juni 2024, terdapat 841 kejadian kecelakaan di Tulungagung, turun dari 1.100 kejadian pada periode yang sama tahun 2023. Fatalitas juga menurun dari 120 korban jiwa pada semester pertama 2023 menjadi 84 korban jiwa pada semester pertama 2024.

"Kami berhasil menekan angka kecelakaan dan fatalitas di Kabupaten Tulungagung," tegas AKP Jodi Indrawan.

Kecelakaan didominasi oleh sepeda motor dan terjadi di malam hari. Wilayah Kecamatan Kedungwaru dan Kecamatan Ngantru menjadi daerah dengan angka kecelakaan tertinggi di Tulungagung.

"Kami akan meningkatkan patroli intensif di malam hari untuk menekan angka kecelakaan," pungkasnya. (riz/dn)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow