Nadiem Hapus Syarat Skripsi untuk Kelulusan, Pengamat Pendidikan: Kebijakan yang Relevan

Kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Menristekdikti) Nadiem Makarim telah menimbulkan berbagai tanggapan.

30 Aug 2023 - 11:14
Nadiem Hapus Syarat Skripsi untuk Kelulusan, Pengamat Pendidikan: Kebijakan yang Relevan
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim hapus syarat skripsi untuk kelulusan. (ist)

Jakarta, (afederasi.com) - Kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Menristekdikti) Nadiem Makarim telah menimbulkan berbagai tanggapan. Pengamat Pendidikan, Doni Koesoema, memberikan pandangannya terhadap langkah kontroversial ini. Doni menyatakan bahwa penghapusan skripsi sebagai syarat kelulusan adalah langkah yang relevan. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan praktik yang umum diterapkan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

"Tidak seharusnya mewajibkan pembuatan skripsi mengingat level S1 kompetensi pembelajarannya masih generik, umum, dan banyak berupa pengantar ke ilmu-ilmu yang lebih mendalam," ungkap Doni.

Dia menekankan bahwa keputusan akhir mengenai penerapan skripsi sebagai syarat kelulusan akan berada di tangan masing-masing kampus.

Terkini dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Menristekdikti), Menteri Nadiem Makarim telah memutuskan langkah besar dalam dunia pendidikan tinggi. Ia mengumumkan bahwa mahasiswa tingkat Sarjana (S1) dan Diploma (D4) tidak lagi diwajibkan untuk menyusun skripsi guna memenuhi syarat kelulusan.

Bahkan, hal serupa berlaku bagi mahasiswa yang menempuh jenjang S2 dan S3, di mana tesis dan disertasi juga tidak lagi menjadi kewajiban. Nadiem menjelaskan bahwa langkah ini diambil karena banyak kendala yang dihadapi oleh mahasiswa dan perguruan tinggi terkait dengan tugas akhir. Beban waktu dan hambatan dalam merancang proses pembelajaran yang relevan menjadi alasan utama di balik langkah ini.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, telah membawa perubahan signifikan dalam sistem pendidikan tinggi. Ia menggariskan bahwa mahasiswa S1, S2, dan S3 tidak diwajibkan lagi untuk menghasilkan skripsi, tesis, atau disertasi guna memenuhi persyaratan kelulusan. Nadiem menjelaskan bahwa pendekatan baru ini akan memberi ruang lebih luas bagi perguruan tinggi untuk mengeksplorasi berbagai bentuk tugas akhir yang lebih relevan dengan perkembangan dunia nyata.

Menurutnya, tugas akhir bisa berupa prototipe, proyek, dan bentuk lain yang mampu menilai kompetensi mahasiswa secara holistik. Meskipun demikian, Nadiem menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing perguruan tinggi, menggarisbawahi pentingnya otonomi akademik dalam pengambilan keputusan ini.(mg-2/mhd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow