Materi Kampus Tak Sejalan dengan Dunia Kerja, Presuniv Gelar Pelatihan Reformasi Pemimpin dan Kepemimpinan

Perguruan tinggi di Indonesia dihadapkan pada tuntutan mendesak untuk mereformasi materi perkuliahan mereka.

08 Sep 2023 - 07:17
Materi Kampus Tak Sejalan dengan Dunia Kerja, Presuniv Gelar Pelatihan Reformasi Pemimpin dan Kepemimpinan
Pelatihan Kepemimpinan di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan President University (Presuniv)

Bekasi, (afederasi.com) - Perguruan tinggi di Indonesia dihadapkan pada tuntutan mendesak untuk mereformasi materi perkuliahan mereka. Saat ini, banyak materi yang diajarkan di kampus-kampus sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Para ahli menyebut bahwa perubahan ini adalah langkah krusial bagi pendidikan tinggi guna menjawab tantangan zaman.

Seiring perkembangan dunia industri dari Industry 3.0 menuju Industry 4.0 dan Society 5.0, DUDI sendiri tengah mengalami transformasi bisnis yang signifikan. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus berani untuk menyesuaikan sistem pendidikannya agar lebih sejalan dengan kebutuhan DUDI. Dalam kata-kata Rektor Presuniv Prof. Dr. Chairy, "Kami harus berani meninggalkan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lama yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Universitas harus adaptif dan berani mendisrupsi dirinya sendiri." 

Salah satu aspek kunci dalam reformasi pendidikan tinggi adalah kepemimpinan. Pemimpin perguruan tinggi harus menjadi pionir dalam proses ini dengan melakukan reformasi diri terlebih dahulu, termasuk dalam hal kepemimpinan. Hanya dengan langkah-langkah seperti ini, perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan DUDI.

Menurut Rektor Presuniv, Prof. Dr. Chairy, dalam pelatihan Kepemimpinan di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh President University, "Perguruan tinggi harus berani merombak sistem pendidikannya agar sesuai dengan kebutuhan DUDI."

Pelatihan Kepemimpinan di Perguruan Tinggi yang baru-baru ini digelar di Kampus Presuniv adalah salah satu langkah konkrit dalam mendukung reformasi ini. Acara ini dihadiri oleh para dekan, ketua program studi, dan manajerial lainnya dari berbagai universitas, termasuk beberapa perwakilan dari universitas terkemuka seperti Universitas Indonesia, Universitas Yarsi, dan Universitas Krisnadwipayana.

Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden, Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA, menjelaskan, "Universitas harus berani meninggalkan beragam pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lama yang sekarang ini sudah tidak dibutuhkan lagi."

Pelatihan ini adalah bagian dari program yang dikelola oleh konsorsium iHiLead atau Indonesia Higher Education Leadership. Konsorsium ini terdiri dari tujuh universitas Indonesia dan tiga universitas dari Uni Eropa. Tujuh universitas Indonesia meliputi President University, Universitas Padjajaran, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Islam Indonesia, Universitas Brawijaya, STIE Malangkucecwara, dan Universitas Negeri Semarang. Sementara tiga universitas asing terdiri dari University of Gloucestershire (Inggris), International School for Business and Social Studies (ISBSS) (Slovenia), dan University of Granada (Spanyol).

Konsorsium ini diawasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selain itu, mereka mendapat dukungan dari Education, Audiovisual and Culture Executive Agency (EACEA), sebuah badan di bawah Erasmus+ dari Uni Eropa.

Materi pelatihan mencakup enam topik utama, termasuk Authentic Leadership, Managing People, Managing Resources (termasuk finance dan aset-aset fisik), Managing Change, dan Managing Conflict. Pada tahap akhir, peserta diminta untuk menyusun Action Learning Set, di mana mereka harus mengidentifikasi permasalahan di unit masing-masing, menyusun rencana perubahan dengan target dan timeline yang jelas, serta berkolaborasi dengan unit lain.

Dengan perubahan-perubahan yang dilakukan melalui pelatihan ini, diharapkan perguruan tinggi dapat lebih responsif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan DUDI.

Permasalahan pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia menjadi salah satu sorotan utama. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hingga Agustus 2023, terdapat sekitar 673.485 lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Hal ini menjadi perhatian serius karena tingginya jumlah pengangguran lulusan universitas dapat mengancam tercapainya target Indonesia Emas pada 2045.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah meluncurkan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti program magang di berbagai perusahaan, sehingga mereka dapat belajar langsung dari DUDI dan menjadi lebih siap untuk dunia kerja.

Namun, Kemendikbudristek tidak dapat bekerja sendirian. Perguruan tinggi juga perlu ikut berperan aktif dengan mereformasi materi kuliah dan sistem pendidikan mereka agar lebih sesuai dengan kebutuhan DUDI. Dengan kerja sama dan reformasi bersama, diharapkan tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi dapat diminimalkan, dan Indonesia dapat mencapai kemajuan yang lebih baik di masa depan. (mg-3/jae)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow