Layar dan Ingatan: Menghidupkan Kembali Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi

17 Jun 2025 - 07:21
Layar dan Ingatan: Menghidupkan Kembali Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi
Kadis Kominfo Bobby Arie Sandy pakai baju dinas Pemkab Jember dan sejarawan saat hadir di acara Talkshow/Diskusi Publik tentang Kepahlawanan dr. Soebandi. (Diskominfo for afederasi.com)

Jember, (afederasi.com) – Senin pagi itu, Perpustakaan Universitas dr. Soebandi disulap menjadi ruang diskusi yang hangat, saat Pemerintah Kabupaten Jember bersama TVRI menggelar talkshow bertema kepahlawanan. Diskusi ini menjadi kelanjutan dari pemutaran Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi, yang tak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga jendela untuk memahami kembali akar perjuangan lokal.

Melalui Videotron di Alun-Alun dan layar tancap saat gelaran Bunga Desaku di Tanggul, Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi sebelumnya telah diputar untuk publik. Pemkab Jember menilai pendekatan visual ini jauh lebih efektif dalam menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda, dibanding sekadar wacana akademik di ruang kelas.

Menurut Kepala Dinas Kominfo Jember, Bobby Arie Sandy, Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi merupakan bentuk strategi kultural yang dirancang menyentuh nalar dan emosi. “Kita tidak sedang membuat hiburan, tapi menghidupkan kembali nilai perjuangan melalui bahasa yang dimengerti anak-anak zaman sekarang,” ujarnya.

Tidak sekadar mengulang sejarah, Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi juga menjadi pengingat penting bahwa masa lalu memiliki peran besar dalam membentuk arah masa depan. Bobby meyakini bahwa sejarah personal para pejuang lokal ini bisa menjadi bahan refleksi kolektif untuk membangun identitas Jember.

Tak heran jika Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi disambut antusias masyarakat. Warga yang menyaksikan pemutaran di ruang terbuka mengaku bahwa mereka baru menyadari betapa dalamnya pengorbanan dua tokoh tersebut. “Kita jadi tahu asal-usul dan makna sebenarnya dari nama yang selama ini sekadar tertulis di rumah sakit atau jalan raya,” ujar seorang penonton.

Pemkab Jember sendiri membuka ruang bagi sineas lokal untuk menyumbangkan karya video mereka. Bila layak, karya tersebut akan menemani Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi di layar Videotron Alun-Alun, menjadikan media publik sebagai ruang edukasi dan ekspresi kreatif.

Apresiasi juga datang dari sejarawan Begandring Soerabaja, Ahmad Zaki Yamani, yang menyebut bahwa Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi adalah bentuk penghargaan tertinggi terhadap tokoh lokal. “Bayangkan, nama dr. Soebandi diabadikan bukan untuk rumah sakit tentara, tapi rumah sakit daerah. Ini menunjukkan betapa kuat pengaruhnya,” katanya.

Bagi Zaki, Film Dokumenter Letkol. Sroedji dan dr. Soebandi bukan sekadar produk dokumentasi, tapi cara Jember menjaga nilai kepahlawanan agar tetap hidup. “Kalau kita tidak tahu siapa pahlawan kita, bagaimana bisa tahu arah kita melangkah,” tutupnya. (gung)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow