Kontroversi Firli Bahuri: Dugaan Pemerasan, Pelanggaran Etik, dan Kontroversi Lainnya
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri, sedang menjadi sorotan publik akibat dugaan pemerasan terhadap eks Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.
Jakarta, (afederasi.com) - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri, sedang menjadi sorotan publik akibat dugaan pemerasan terhadap eks Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Kontroversi yang melibatkan nama Firli Bahuri ini telah mencuri perhatian masyarakat.
Firli Bahuri sempat menghilang sejenak setelah dugaan pemerasan terhadap Syahrul Yasin Limpo muncul. Namun, kontroversi yang melingkupi sosok Ketua KPK ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Publik sering kali menyoroti tindakan dan keputusan yang kontroversial yang dilakukan oleh Firli Bahuri.
Firli Bahuri pernah dinyatakan melakukan pelanggaran kode etik berat pada tahun 2019. Ini terjadi setelah dirinya bertemu dengan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), M Zainul Majdi, yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB), pada Mei 2018. Pertemuan ini dianggap melanggar kode etik karena saat itu KPK sedang menyelidiki kasus dugaan korupsi yang melibatkan Pemprov NTB terkait kepemilikan saham PT Newmont. Bukti-bukti seperti keterangan saksi, foto, dan video mendukung temuan ini.
Firli Bahuri juga menghadapi penolakan ketika mencalonkan diri sebagai Ketua KPK. Banyak pihak, termasuk masyarakat sipil dan pegiat antikorupsi, menilai bahwa kepemimpinan Firli Bahuri dapat mengancam masa depan KPK. Kritik tersebut tidak datang tanpa alasan, karena Firli pernah melanggar kode etik ketika menjabat sebagai Direktur Penindakan KPK.
Pada tahun 2021, Firli dilaporkan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) ke Badan Kriminal Kepolisian Negara RI karena dugaan menerima gratifikasi berupa diskon sewa helikopter. ICW bahkan menyediakan perbandingan harga dari penyedia jasa penerbangan lain yang menunjukkan Firli mendapatkan diskon tersebut. Dugaan ini berkaitan dengan perjalanan pribadi Firli dari Palembang ke Baturaja, Lampung, menggunakan helikopter.
Selain dugaan gratifikasi helikopter, Firli juga diduga menerima gratifikasi berupa penginapan di hotel selama dua bulan. Saat menjalani uji kelayakan untuk jabatan pimpinan KPK, Firli mengakui bermalam di hotel bersama keluarganya, meskipun ia membantah bahwa biaya penginapan tersebut dibayarkan oleh pihak lain.
Firli Bahuri adalah sosok yang sering kali menjadi pusat perhatian publik, terutama karena berbagai kontroversi yang melibatkan nama dan tindakannya. Kasus-kasus tersebut telah memicu perdebatan dan pertanyaan tentang integritas dan etika seorang pemimpin KPK. Kiprahnya di dunia antikorupsi terus menjadi topik pembicaraan di berbagai lapisan masyarakat. (mg-3/jae)
What's Your Reaction?



