Haul Gus Dur Gaungkan Solidaritas dan Kerukunan, Warga Panggungrejo Satukan Doa untuk Bangsa
"Perjuangan Gus Dur harus diteruskan,"ujar Gus Munib panggilan akrab Munib Huda sekaligus putra menantu Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) tersebut.
Tulungagung, (afederasi.com) – Haul Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi ruang refleksi kebangsaan ketika ratusan warga berkumpul di Musholla Roudlotus Sholihin, Sentulan RT 02 RW 02, Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung pada Sabtu (27/6/2026) malam. Peringatan wafat Presiden ke-4 Republik Indonesia yang ke-17 itu dipadukan dengan santunan anak yatim, menghadirkan suasana religius sekaligus memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Mengusung tema "Ibu Pertiwi Memanggil: Solidaritas Tanpa Batas", Haul Gus Dur dihadiri masyarakat sekitar bersama jajaran Fatayat NU dan Muslimat NU Ranting Panggungrejo. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa semangat persaudaraan lintas kalangan yang selama ini diwariskan Gus Dur masih terus hidup dan dirawat hingga kini.
Asisten pribadi Gus Dur, Munib Huda mengatakan Haul Gus Dur mengangkat kembali keteladanan Abdurrahman Wahid yang dikenal sebagai tokoh bangsa dengan komitmen kuat dalam melindungi kelompok minoritas. Nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan Gus Dur dinilai tetap relevan sebagai pijakan menghadapi tantangan kehidupan sosial yang semakin beragam.
"Perjuangan Gus Dur harus diteruskan,"ujar Gus Munib panggilan akrab Munib Huda sekaligus putra menantu Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) tersebut.
Selain itu, Haul Gus Dur juga menjadi pengingat pentingnya menjaga kerukunan di tengah perbedaan suku, agama, budaya, maupun pandangan politik. Para penceramah menekankan bahwa persatuan bangsa hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen masyarakat terus mengedepankan sikap saling menghormati, toleransi, dan solidaritas tanpa membedakan latar belakang.
Pembahasan mengenai ajaran thariqah turut mewarnai jalannya Haul Gus Dur. Materi tersebut disampaikan sebagai upaya memperkuat dimensi spiritual masyarakat agar semakin dekat kepada Allah SWT melalui pembinaan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, dan penguatan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.
Haul Gus Dur diisi dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk almarhum Gus Dur, para ulama, serta seluruh pemimpin bangsa Indonesia. Jamaah berharap para pemimpin diberikan kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah sehingga mampu menjaga persatuan serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui Haul Gus Dur, panitia berharap semangat kemanusiaan, toleransi, dan kepedulian sosial yang diwariskan Gus Dur terus mengakar di tengah masyarakat. Santunan kepada anak yatim yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa ajaran tentang kasih sayang dan keberpihakan kepada sesama harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi wacana. (jae)
What's Your Reaction?

