Harga Kambing Kurban di Trenggalek Mulai Melejit, Peternak Berharap Masuk Menu Makan Bergizi Gratis
Menjelang Idul Adha 1447 H, harga kambing kurban di Trenggalek mulai merangkak naik ke angka Rp3 juta per ekor. Peternak berharap daging kambing dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Trenggalek, (afederasi.com) – Mendekati Hari Raya Idul Adha 1447 H, geliat harga hewan kurban di Kabupaten Trenggalek mulai menunjukkan tren positif. Setelah sempat lesu dalam dua bulan terakhir, harga kambing jantan siap kurban kini mulai merangkak naik dan memberikan angin segar bagi para peternak lokal.
Bagus Faturohman, peternak asal Desa Jambu, Kecamatan Tugu, mengungkapkan bahwa kenaikan ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Menurutnya, harga kambing sebelumnya sempat merosot tajam dibandingkan tahun lalu akibat rendahnya daya beli masyarakat.
"Dua bulan terakhir harga kambing sangat merosot. Kami berharap mendekati Idul Adha ini harga bisa kembali stabil, setidaknya menyamai capaian tahun lalu," ujar Bagus saat ditemui di peternakannya, Rabu (6/5/2026).
Memasuki dua minggu menjelang hari raya, Bagus mencatat varian kambing kurban sudah mulai menunjukkan stabilitas harga. Saat ini, rata-rata kambing jantan yang memenuhi syarat kurban dibanderol di kisaran Rp3 juta per ekor. Namun, kondisi berbeda dialami untuk kategori kambing betina dan anak kambing atau cempe.
"Kambing yang masuk kriteria kurban harganya mulai naik. Tapi untuk jenis betina dan cempean, harganya masih bisa dibilang hancur di pasaran," jelasnya sembari menimbang berat ternaknya.
Di tengah momentum kenaikan harga kurban, Bagus juga menyoroti peluang pasar jangka panjang melalui program pemerintah pusat. Ia berharap komoditas daging kambing dapat diakomodasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar kesejahteraan peternak kecil lebih terjamin.
"Kami berharap daging yang masuk program MBG tidak hanya sapi, tapi juga daging kambing. Dengan begitu, peternak di Trenggalek bisa merasakan langsung dampak program Presiden," tutur Bagus.
Hingga saat ini, para peternak di Trenggalek mengaku masih kesulitan dalam akses penjualan, terutama di pasar-pasar lokal. Belum adanya kerja sama antara peternak kambing dengan penyedia dapur MBG menjadi kendala utama dalam menyerap stok karkas yang melimpah di wilayah tersebut.
"Setahu saya belum ada pengambilan daging kambing untuk MBG. Padahal peternak di sini sangat banyak," imbuhnya.
Ia menekankan bahwa sektor peternakan kambing mayoritas dikelola oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Berbeda dengan sapi yang membutuhkan modal besar, kambing menjadi tumpuan ekonomi bagi banyak warga di pedesaan Trenggalek.
"Kalau daging kambing bisa masuk program pemerintah, tentu harga jual akan lebih stabil. Ini bukan sekadar bisnis, tapi soal membantu ekonomi peternak kecil agar tetap bertahan," pungkas Bagus.(pb/dn)
What's Your Reaction?

