Gresik Pacu Akses Air Bersih dan Sanitasi Aman, Sekda: Kesenjangan Masih 20 Persen Lebih

"Anggarannya sudah kita susun. Mudah-mudahan proses pemenuhan akses air bersih ini berjalan lancar dan segera berdampak bagi desa-desa yang akan dialiri air dari Bendung Gerak Sembayat,” ujar Washil.

26 Jun 2026 - 14:25
Gresik Pacu Akses Air Bersih dan Sanitasi Aman, Sekda: Kesenjangan Masih 20 Persen Lebih
Sekda Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman saat membuka Stakeholder Forum & Sharing Session di ruang Argo Lengis Kantor Bupati Gresik (Fahrudin/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus menggenjot pemenuhan akses air bersih dan sanitasi aman bagi masyarakat. Langkah ini menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah guna meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan warga secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman saat membuka kegiatan Stakeholder Forum & Sharing Session bertema "Kabupaten Gresik Menuju Pemenuhan Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak Berkelanjutan Bagi Masyarakat" di Ruang Argo Lengis, Kantor Bupati Gresik, Kamis (25/06/2026).

Dalam sambutannya, Sekda Washil menyampaikan bahwa penyediaan air bersih dan sanitasi aman menjadi perhatian serius Bupati dan Wakil Bupati Gresik. Berbagai program strategis pun telah disiapkan untuk mempercepat pemenuhan layanan dasar tersebut.

Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah pembangunan dua tandon air berkapasitas besar di Desa Sembayat dan Desa Manyar. Infrastruktur tersebut akan menjadi penopang distribusi air bersih dari Bendung Gerak Sembayat (BGS) ke sejumlah desa yang hingga kini masih membutuhkan layanan air bersih.

“Anggarannya sudah kita susun. Mudah-mudahan proses pemenuhan akses air bersih ini berjalan lancar dan segera berdampak bagi desa-desa yang akan dialiri air dari Bendung Gerak Sembayat,” ujar Washil.

Selain air bersih, Pemkab Gresik juga menghadapi tantangan besar dalam sektor sanitasi aman. Berdasarkan data yang dipaparkan Sekda, capaian sanitasi aman di Kabupaten Gresik saat ini baru mencapai 2,69 persen atau sekitar 11.787 rumah. Sementara target dalam RPJMD 2025–2029 ditetapkan sebesar 23,41 persen.

“Artinya kita masih memiliki deviasi atau kesenjangan sekitar 20,72 persen. Ini angka yang sangat besar sehingga proses pemenuhan sanitasi aman harus dimaksimalkan. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk sektor swasta,” tegasnya.

Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Pemkab Gresik mendorong Kecamatan Manyar dan Kecamatan Bungah menjadi wilayah percontohan atau pilot project penerapan sanitasi aman.

Dalam forum tersebut, Washil juga menyoroti fenomena “sanitasi tersamar” yang masih banyak ditemukan di kawasan perkotaan maupun permukiman padat penduduk.

Menurut Washil, tidak sedikit rumah yang terlihat memiliki fasilitas sanitasi memadai, namun sebenarnya belum dilengkapi septic tank sesuai standar kesehatan atau masih membuang limbah langsung ke saluran terbuka.

“Kondisi ini berisiko mencemari air tanah oleh bakteri E. coli. Apalagi masih banyak sumur warga yang jaraknya dengan resapan tangki septik kurang dari 10 meter, padahal itu batas aman yang harus dipenuhi,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Pemkab Gresik akan mengintegrasikan pembangunan sanitasi aman dalam program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Pada 2026 hingga 2027, sebanyak 647 rumah milik warga kelompok desil 1 dan desil 2 ditargetkan direhabilitasi dengan kewajiban dilengkapi fasilitas sanitasi aman berupa bio septic tank.

Di sisi lain, melalui UPT Pengelolaan Limbah Cair Domestik (PLCD), Pemkab Gresik juga akan mengoptimalkan program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) dan aplikasi GO-PLONG guna memastikan pengelolaan limbah domestik dilakukan secara berkala setiap dua hingga tiga tahun.

Sekda Washil menutup sambutannya menyampaikan apresiasi kepada berbagai mitra pembangunan yang selama ini turut mendukung peningkatan akses air bersih dan sanitasi di Kabupaten Gresik. 

Dukungan tersebut datang dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Cempaka serta sejumlah perusahaan di kawasan industri, salah satunya Freeport, yang berkontribusi dalam mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat.

“Kolaborasi menjadi kunci. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, target akses air bersih dan sanitasi aman di Kabupaten Gresik dapat tercapai lebih cepat dan berkelanjutan,” pungkasnya.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow